Pagi hari jam 7 dengan berbekal nasi dan lauk seadanya dari rumah mereka berangkat kerja. Nanti sore jam 5 jika tidak ada perintah lembur mereka pulang dalam kondisi kelelahan dan kuyu. Begitu terus mereka jalani hidup hingga maut menjemput.
Bandingkan misalnya jika Anda bekerja dengan modal tenaga di negara lain seperti Jepang misalnya, dengan pekerjaan sama menyiangi rumput atau memanen hasil kebun. Buruh harian lepas biasa. Jika di Indonesia: Rp150.000 untuk 8 jam kerja ≈ Rp18.750 per jam. Buruh kasar di Jepang: sekitar ¥1.200–2.000 per jam (tergantung daerah dan pekerjaan). Dengan kurs sekitar Rp110–115 per yen, itu setara sekitar Rp130.000–230.000 per jam. Artinya, upah per jam di Jepang memang bisa sekitar 7–10 kali lebih tinggi daripada di Indonesia.
Perbandingan itu sangat besar, tetapi jika dinaikkan maka elite kelas menengah atas kita akan segera beralasan karena di Jepang itu produktivitas kerjanya lebih tinggi, yang dijual perusahaan di Jepang nilainya lebih tinggi, modal mesin dan teknologi yang diinvestasikan di Jepang lebih besar, biaya hidup di Jepang lebih tinggi, dan tingkat pengangguran lebih rendah.
Seluruh alasan dapat dibuat, tapi jenis pekerjaan dan jam kerja dan bahkan cara kerja yang sama yang dilakukan oleh buruh itu di Indonesia ataupun di Jepang tetap sama. Gunakan tangan dan cucurkan keringat yang sama. Hanya bedanya jika di Jepang orang kerja musti menahan suhu dingin, di Indonesia menaham terik mentari yang menyengat dan membakar punggung.
Jika alasan produktivitas kerja lebih tinggi, pekerjaan manual yang dikerjakan sama. Di Indonesia mesin-mesin juga teknologi yang sama sudah dihadirkan untuk membantu kerja buruh. Jika modal mesin dan teknologi yang diinvestasikan di Jepang lebih besar, perusahaan kita juga sudah menginstal mesin yang sama.
Jika alasanya harga barang atau produk yang dijual Jepang nilainya lebih tinggi maka sesungguhnya kita juga dapat menjualnya sama jika negara mau melindungi kelas buruh lepas ini. Banyak malahan barang-barang yang kita jual itu kita ekspor ke luar negeri.
Sebut misalnya minyak sawit. Kita sebagai produsen terbesar dunia dan gaji buruh di kebun sawit dihargai sama. Atau misalnya baju kaos yang kita jual ke Singapura tapi dijahit dengan gaji murah buruh harian lepas di Pemalang, Jawa Tengah.
Jika alasan yang rasional adalah biaya hidup di Jepang itu mahal maka dapat kita perbandingkan. Ilustrasinya jika di Indonesia upah harian 8 jam 150.000 dan harga makan sederhana kelas warteg cukup lengkap 25.000 maka seorang buruh dapat membeli 6 porsi makan. Jika di Jepang upah harian per 8 jam sekitar Rp1.200.000 dan harga makan Rp100.000 maka seorang buruh bisa membeli sekitar 12 porsi makan dari upah sehari.


