Opini Kita

Perbudakan itu Bernama Buruh Harian Lepas

×

Perbudakan itu Bernama Buruh Harian Lepas

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2025 02 03 at 09.09.27
Suroto. (Foto: Ist)

Jadi walaupun makanan di Jepang lebih mahal, kemampuan membeli makanan justru sekitar dua kali lebih baik dibandingkan buruh Indonesia.

Inilah yang disebut upah riil (real wage). Hal yang menentukan kesejahteraan bukan sekadar besarnya gaji, tetapi berapa banyak barang dan jasa yang dapat dibeli dengan gaji tersebut.

Pada intinya, upah buruh harian lepas di Indonesia itu nasibnya memang dibuat sial secara struktural. Tidak mendapat perlindungan memadai dari negara. Mereka dibuat hidup sungkan mati segan. Ditindas dan diperas oleh sistem kapitalisme yang memang terus dilanggengkan dan dihidupi oleh kelas elite kaya dan elite politik agar dapat terus menikmati keuntungan atau nilai tambah yang besar.

Semua alasan yang mereka buat seperti ancaman inflasi, investor akan lari ke luar negeri dan lain sebagainya jelas dibuat-buat. Kenaikan upah mereka secara agregat justru menaikkan daya beli masyarakat, konsumsi yang jadi andalan pertumbuhan ekonomi kita akan meningkat, kemiskinan pekerja berkurang.

Kenaikan upah juga akan tingkatkan produktivitas pekerja, pendidikan dan keterampilan membaik, penggunaan teknologi semakin luas, investasi industri bertambah, perusahaan menghasilkan produk bernilai tinggi, pertumbuhan ekonomi akan terjaga.

Negara ini ada untuk berbagi kemakmuran bukan sejahterakan segelintir orang. Kita ini bangsa merdeka dan rakyat berhak untuk menikmatinya. Untung boleh, tapi menindas jangan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *