-Risiko Keselamatan yang Nyata
Tragedi kecelakaan bus SMK Lingga Kencana di Ciater menjadi pemicu utama larangan ini. Dedi menyoroti risiko keselamatan dalam study tour jarak jauh, terutama karena banyak sekolah bekerja sama dengan agen travel yang tidak memenuhi standar keselamatan. Tindakan tegasnya, seperti mencopot kepala sekolah yang melanggar, menunjukkan bahwa ia memprioritaskan perlindungan siswa. Dengan mempertimbangkan risiko ini, Dedi kemungkinan akan tetap kukuh, kecuali ada jaminan regulasi keselamatan yang ketat dari pelaku pariwisata.
-Konsistensi sebagai Pemimpin
Dedi dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan konsisten, terlihat dari responsnya terhadap pelanggaran di SMAN 6 Depok dan kebijakan lain seperti larangan wisuda. Ia bahkan menantang kepala sekolah yang menentang aturan untuk “berhadapan langsung” dengannya.
Sikap ini menunjukkan bahwa Dedi tidak mudah goyah oleh tekanan, terutama jika ia yakin kebijakannya demi kepentingan masyarakat luas. Demonstrasi kemarin, meskipun besar, mungkin tidak cukup untuk mengubah pendiriannya tanpa solusi konkret yang menjawab kekhawatirannya soal beban ekonomi dan keselamatan.
Mungkinkah Ada Jalan Tengah?
Meski Dedi Mulyadi cenderung mempertahankan kebijakan ini, ada peluang untuk kompromi. Demonstrasi kemarin menunjukkan bahwa pelaku pariwisata sangat bergantung pada study tour, dan tekanan dari menteri serta asosiasi seperti ASITA dan PHRI bisa mendorong dialog.
Beberapa solusi yang mungkin dipertimbangkan:
-Study Tour dalam Provinsi: Dedi telah menyarankan agar study tour dilakukan di Jawa Barat, seperti mengunjungi pusat kebudayaan atau perguruan tinggi setempat. Ini bisa menjadi kompromi yang menjaga ekonomi pariwisata lokal tanpa mengorbankan keselamatan siswa.




