KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuai kritik setelah pernyataannya terkait lonjakan inflasi di tengah konflik yang melibatkan Iran menjadi sorotan publik.
Pernyataan tersebut muncul setelah data terbaru menunjukkan inflasi tahunan Amerika Serikat mencapai 4,2 persen pada Mei 2026, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh melonjaknya harga energi akibat terganggunya pasokan minyak global yang berkaitan dengan konflik di kawasan Timur Tengah dan gangguan lalu lintas energi di Selat Hormuz.
Data menunjukkan harga bensin di Amerika Serikat naik sekitar 40,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara sektor energi menyumbang lebih dari 60 persen kenaikan indeks harga konsumen (CPI) bulanan.
Trump Klarifikasi Pernyataannya
Kontroversi bermula ketika Trump mengucapkan kalimat “I love the inflation” atau “Saya suka inflasi” dalam tanggapannya terhadap laporan inflasi terbaru. Pernyataan tersebut langsung memicu kritik dari berbagai kalangan politik dan ekonomi.
Namun, Trump kemudian menjelaskan bahwa ucapannya telah dipahami di luar konteks.

