KITAINDONESIASATU.COM – Setelah lebih dari 16 bulan dipenjara oleh Israel, Rose Khwais, seorang remaja Palestina berusia 17 tahun, yang merupakan tahanan wanita termuda yang pernah ditahan Israel, akhirnya dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata Gaza dan pertukaran tahanan.
Pada Minggu malam (19/1), otoritas Israel membebaskan 90 tahanan Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, dari Penjara Ofer di Ramallah barat, Tepi Barat, sebagai bagian dari tahap pertama kesepakatan tersebut.
Khwais ditangkap pada Mei 2024 di Kota Tua Yerusalem Timur dan sebelumnya dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Ini adalah pengalaman pertama Khwais sebagai tahanan.
“Saya masuk penjara dalam keadaan terkejut, bahkan tidak tahu apa itu penjara,” kata Khwais saat kembali ke rumahnya di Yerusalem Timur.
Ditangkap pada usia 16 tahun, Khwais mengaku tidak memiliki pengetahuan mengenai metode interogasi Israel atau taktik keras yang digunakan.
“Saya bahkan tidak tahu seperti apa sel penjara itu. Yang saya tahu hanya dari cerita tahanan lain, yaitu ruangan kecil dengan kasur. Tapi saya tidak pernah membayangkan akan seburuk itu,” tambahnya.
Menggambarkan pengalamannya di penjara, Khwais mengatakan, “Penjara itu seperti kegelapan. Anda tidak melihat siapa pun. Itu hanya kuburan yang bercahaya.”
Khwais juga mengingat berbagai bentuk penderitaan yang dialaminya selama di tahanan Israel, termasuk penindasan, intimidasi, ancaman, penggeledahan tubuh, dan pelecehan terhadap perempuan.
“Penjara itu mengubah banyak hal dalam diri saya,” kata Khwais, merujuk pada dampak fisik dan mental yang dialaminya.
Kondisi keras dan metode interogasi yang berat menyebabkan Khwais menderita masalah kesehatan, termasuk tanda-tanda stroke, cairan di sekitar jantung, dan tekanan darah tinggi.
Khwais juga menceritakan perlakuan buruk yang diterimanya selama pemeriksaan medis. Meskipun mengeluh tentang rasa sakitnya, ia malah diancam oleh petugas.
“Penjara itu mengerikan. Penjara adalah penjara,” tegasnya.
Keinginan terbesar para tahanan wanita Palestina, menurut Khwais, adalah “melihat langit”.
“Kami hanya bisa melihat langit melalui kotak-kotak kecil di langit-langit yang dilapisi kawat besi. Kami berdoa kepada Allah agar dapat melihat langit tanpa kotak-kotak itu,” tambahnya.
Setelah dibebaskan, Khwais merasa lega dapat melihat Gunung Karmel dan langit yang bebas.
Kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Minggu ini bertujuan untuk menghentikan perang Israel di Gaza dan mencakup pertukaran tahanan sebagai langkah menuju perdamaian yang lebih berkelanjutan.- ***
Sumber: Anadolu Ajansi
