News

Peternak Ayam Bisa Bernapas Lega! IPB University Ciptakan Jagung Analog Jadi Solusi Pakan Murah Nasional

×

Peternak Ayam Bisa Bernapas Lega! IPB University Ciptakan Jagung Analog Jadi Solusi Pakan Murah Nasional

Sebarkan artikel ini
pakan ayam bogor
Sagu parut dan singkong, dua bahan lokal yang selama ini terabaikan, kini jadi solusi pakan alternatif untuk unggas. (KIS/ist)

“Untuk menjadikan singkong sebagai bahan pakan yang ekonomis, produktivitasnya harus mencapai minimal 40 ton per hektare. Beberapa varietas unggul dari IPB University saat ini sudah mampu memenuhi target tersebut,” terang Heri.

Jagung analog hasil pengembangan tim IPB ini tidak hanya mengandung karbohidrat dari sagu dan singkong, tetapi juga ditambahkan bahan lain yang kaya protein dan mikronutrien, termasuk ekstrak daun kelor sebagai sumber beta-karoten, vitamin, dan mineral mikro.

Proses penting dalam pengembangan jagung analog adalah ekstrusi, yaitu teknik hydrothermal yang bertujuan memperbaiki sifat fisik dan kimia bahan pakan agar mendekati kualitas jagung asli. Metode ini menjadikan jagung analog lebih stabil, mudah dicerna, dan siap digunakan dalam skala produksi.

Setelah sukses diuji coba pada ayam kampung, tahun ini jagung analog juga akan diuji pada ayam broiler, seiring selesainya proses ekstrusi dalam skala yang lebih besar.

Proyek jagung analog ini juga telah memperoleh dukungan dari pemerintah. Tahun ini, inovasi tersebut mendapatkan pendanaan dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, sebagai bagian dari program diseminasi dan penerapan hasil riset kepada masyarakat.

“Biaya pakan yang lebih murah akan menurunkan harga produksi ayam, sehingga konsumen juga bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau,” tegas Heri.

Ia berharap, jagung analog bisa segera dikomersialisasikan secara luas dan menjadi alternatif pakan ternak yang murah, mudah diproduksi, dan berbasis bahan lokal. Terobosan ini diyakini mampu mendukung kemandirian pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan impor.

“Inovasi jagung analog tidak hanya mengurangi ketergantungan impor jagung, tetapi juga memberdayakan sumber daya lokal yang selama ini belum optimal dimanfaatkan. Sagu Papua dan singkong daerah bisa menjadi kunci kemandirian pakan ternak nasional,” pungkasnya. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *