News

Pertempuran Berdarah! M23 Serang Goma, 100 Tewas dan Ribuan Terluka

×

Pertempuran Berdarah! M23 Serang Goma, 100 Tewas dan Ribuan Terluka

Sebarkan artikel ini
FotoJet 16 4
Petugas keamanan Rwanda mengawal anggota angkatan bersenjata DRC. (Foto: Jean Bizimana/Reuters)

KITAINDONESIASATU.COM – Di tengah pertempuran sengit antara tentara dan kelompok pemberontak M23 yang didukung oleh Rwanda, mayat-mayat tergeletak di jalanan kota Goma.

Suara ledakan serta tembakan terus terdengar di kota terbesar di bagian timur Republik Demokratik Kongo (DRC) pada hari Selasa, 28 Januari 2025.

Warga melaporkan tembakan senjata api dan mortir yang terus berlanjut di Goma, ibu kota provinsi Kivu Utara, yang juga menjadi pusat bantuan bagi pengungsi, setelah pejuang M23 memasuki kota pada hari Minggu.

Sekitar 100 orang dilaporkan tewas dan 1.000 lainnya terluka dalam tiga hari pertempuran yang semakin memperburuk situasi kemanusiaan di daerah tersebut.

Rumah sakit kewalahan merawat pasien dengan luka tembak dan pecahan peluru.

PBB dan organisasi bantuan lainnya mengungkapkan bahwa situasi kemanusiaan di Goma dan sekitarnya sangat memprihatinkan, ada pemerkosaan, penjarahan, dan serangan terhadap fasilitas kesehatan. Petugas medis pun menjadi korban tembakan.

Menteri Luar Negeri DRC, Thérèse Kayikwamba Wagner, melaporkan lebih dari 500.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran yang terjadi sepanjang Januari.

Palang Merah juga mencatat lebih dari 100 pasien diterima di rumah sakit mereka dalam waktu 24 jam, banyak di antaranya mengalami cedera parah akibat mortir dan pecahan peluru.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa meskipun rumah sakit kewalahan, pihaknya masih menerima laporan dari orang-orang yang terluka yang kesulitan mendapatkan layanan medis.

Selain itu, 13 pasukan penjaga perdamaian Afrika Selatan, serta tiga tentara Malawi dan satu tentara Uruguay, dilaporkan tewas dalam konflik ini.

M23, yang merupakan kelompok pemberontak yang dipimpin oleh etnis Tutsi, mengklaim bahwa mereka berusaha melindungi kepentingan kelompok Tutsi Kongo dan minoritas lainnya.

Milisi ini telah memasuki Goma, menyebabkan protes besar di ibu kota Kinshasa, di mana massa menyerang kedutaan negara-negara yang mereka anggap mendukung Rwanda, termasuk Belgia, Prancis, Kenya, dan Amerika Serikat.

Sementara itu, AS mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk meninggalkan DRC akibat meningkatnya kekerasan, sementara pemerintah Kongo meminta demonstran untuk berhenti menyerang kedutaan asing dan melanjutkan protes mereka dengan cara damai.

M23 adalah salah satu dari banyak kelompok bersenjata yang berjuang menguasai wilayah kaya mineral di timur DRC, yang kaya akan sumber daya alam seperti tantalum dan kobalt, yang digunakan dalam industri elektronik dan pembuatan kendaraan listrik.- ***

Sumber: The Guardian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *