NewsNasional

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Dorong Pers Mahasiswa Jadi Ruang untuk Bentuk Karakter

×

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Dorong Pers Mahasiswa Jadi Ruang untuk Bentuk Karakter

Sebarkan artikel ini
hidayat 8
Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mengajak mahasiswa yang aktif di pers kampus tidak sekadar menjadi pembuat berita. Ia mendorong pers mahasiswa menjadi ruang untuk membentuk karakter, mengasah daya pikir, sekaligus mempersiapkan diri menjadi penulis dan intelektual di masa depan.

Komaruddin menilai pengalaman di pers mahasiswa memiliki nilai lebih dibanding sekadar kemampuan jurnalistik. Aktivitas tersebut, menurutnya, membiasakan mahasiswa berpikir sistematis, kritis, dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Hal itu disampaikan Komaruddin saat menghadiri Konferensi Nasional Peningkatan Kapasitas dan Perlindungan Pers Mahasiswa di Hall Dewan Pers, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

“Saya berikan apresiasi bahwa mahasiswa yang bergabung pada pers mahasiswa itu punya peluang dan punya tantangan Anda to be above average, compared with others,” kata Komaruddin.

Komaruddin mengatakan, berdasarkan pengalamannya, banyak orang yang kemudian memiliki karier menonjol ternyata memiliki latar belakang sebagai aktivis pers mahasiswa. Ia mencontohkan pengamat politik dan peneliti Saiful Mujani serta Burhanuddin Muhtadi. “Saya mengamati ini datanya cukup autentik sekali. Kawan-kawan yang kariernya menonjol itu dulu hampir semuanya mantan aktivis pers mahasiswa,” ujarnya.

Menurut Komaruddin, mahasiswa yang aktif di pers memiliki keunggulan karena terbiasa melakukan analisis dan membandingkan berbagai sumber informasi.

Kebiasaan tersebut membuat mereka tidak mudah menerima satu pendapat sebagai sebuah kebenaran tanpa melakukan verifikasi dan melihat perspektif lain. “Saya juga pernah jadi wartawan waktu itu sebagai mahasiswa, terlatih biasa berpikir komparatif, cover both side. Tidak mudah terjebak hanya satu pendapat, karena terbiasa untuk melakukan analisis berbagai sumber,” katanya.

Tidak hanya itu, pers mahasiswa juga melatih kemampuan mengorganisasi informasi. Mahasiswa belajar mengumpulkan berbagai fakta, memilah informasi yang relevan, kemudian menyusunnya menjadi tulisan yang terstruktur. “Para mahasiswa yang aktif di pers itu punya keterampilan melakukan organisasi informasi. Itu diatur di kepalanya, dituangkan. Sehingga punya kemampuan berpikir sistematis, organisatoris,” tutur Komaruddin.

Komaruddin menilai aktivitas menulis juga membentuk cara seseorang menyampaikan gagasan. Terlebih, dalam jurnalistik, penulis kerap dibatasi ruang dan jumlah karakter. Kondisi tersebut membuat seorang penulis harus mampu memilih informasi paling penting dan menyampaikan gagasan secara efektif. “Ketika Anda menulis dibatasi kolom, jumlahnya, lebarnya, Anda terbiasa berpikir sistematis, substantif, tidak mampir ke mana-mana,” ujarnya.

Kebiasaan tersebut, kata Komaruddin, juga akan terlihat ketika seseorang berbicara dalam forum. Orang yang terbiasa menulis cenderung mampu menyampaikan gagasan secara runtut dan tidak berputar-putar.
“Ketika ada forum diskusi, orang yang biasa aktif di pers mahasiswa yang terlatih berpikir sistematis itu bicaranya tertib, urut layaknya biasa dia menulis paragraf-paragraf dalam tulisannya,” katanya. Karena itu, Komaruddin menilai pers mahasiswa tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat belajar membuat berita.

Menurutnya, aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan karakter dan investasi karier. “Artinya bahwa Anda aktif di pers mahasiswa itu tidak semata melatih keterampilan Anda menulis. Tapi ini bagian dari character building dan investasi karier Anda ke depan,” tegasnya.

Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Komaruddin juga mengingatkan mahasiswa agar tidak kehilangan pengalaman melakukan wawancara secara langsung.

Menurutnya, AI dan teknologi dapat membantu mencari serta mengolah informasi. Namun, teknologi tidak sepenuhnya dapat menggantikan pengalaman berinteraksi langsung dengan narasumber. “Dulu saya sering sekali melakukan wawancara langsung ketemu orang. Kalau anak sekarang mungkin dengan AI, dengan teknologi itu tidak usah ketemu orang. Tapi ada yang hilang dari Anda,” katanya.

Komaruddin mengatakan, bertemu langsung dengan narasumber memberikan pengalaman penting dalam membangun kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, sekaligus mengasah teknik wawancara. “Yaitu bagaimana Anda berinteraksi dengan tokoh-tokoh. Itu penting membentuk sikap percaya diri, berlatih, teknik wawancara dan sebagainya,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *