KITAINDONESIASATU.COM — China tengah menjalankan revolusi robotika dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ketika perhatian dunia tertuju pada robot humanoid yang mampu berlari dan bertinju, jutaan robot justru telah bekerja setiap hari di pabrik-pabrik manufaktur Negeri Tirai Bambu.
Data yang dikutip dari laporan BBC menyebutkan lebih dari dua juta robot telah beroperasi di sektor manufaktur China. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar di dunia dan terus meningkat seiring ambisi Beijing mempercepat otomatisasi industri.
China Siapkan Generasi Baru untuk Era Robot
Perkembangan robotika tidak hanya terlihat di kawasan industri, tetapi juga mulai masuk ke dunia pendidikan. Sejumlah sekolah vokasi dan institusi teknik menyiapkan mahasiswa agar memiliki keterampilan di bidang kecerdasan buatan atau AI, pemrograman, otomasi, hingga robotika.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi China menghadapi perubahan struktur tenaga kerja.
Penurunan populasi dan semakin banyaknya penduduk lanjut usia diperkirakan dapat membuat jumlah pekerja manufaktur berkurang dalam beberapa tahun mendatang. Robot kemudian dipandang sebagai salah satu solusi untuk menjaga produktivitas industri.
Di sejumlah pabrik, robot sudah digunakan untuk berbagai pekerjaan seperti mengelas, mengecat, mengangkat, merakit, hingga melakukan tugas berulang selama berjam-jam. Industri kendaraan listrik juga menjadi salah satu sektor yang memanfaatkan otomatisasi secara masif.
Namun, perkembangan tersebut menghadirkan tantangan baru. China masih memiliki sekitar 120 juta pekerja manufaktur yang kehidupannya bergantung pada sektor tersebut.
Jika otomatisasi berlangsung terlalu cepat, sebagian pekerja berpotensi kehilangan pekerjaan.





