Internasional

Pemilih Independen AS Mulai Tinggalkan Republik, Demokrat Mendadak Unggul Jelang Pemilu Paruh Waktu

×

Pemilih Independen AS Mulai Tinggalkan Republik, Demokrat Mendadak Unggul Jelang Pemilu Paruh Waktu

Sebarkan artikel ini
5896154

KITAINDONESIASATU.COM – Peta dukungan politik di Amerika Serikat mulai berubah menjelang pemilu paruh waktu November. Pemilih independen yang selama ini menjadi kelompok penting dalam menentukan hasil pemilu kini semakin menunjukkan kecenderungan ke Partai Demokrat.

Data afiliasi politik triwulanan terbaru Gallup menunjukkan, 49 persen pemilih yang tidak mengidentifikasi diri sebagai Demokrat maupun Republikan mengaku lebih condong kepada Demokrat. Sementara itu, hanya 39 persen yang menyatakan lebih dekat dengan Partai Republik.

Perubahan ini menjadi sinyal yang patut diperhatikan Partai Republik. Keunggulan Demokrat di kalangan pemilih independen tercatat meningkat empat poin persentase dibandingkan kuartal pertama 2025, ketika Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih untuk periode kedua.

Bukan hanya pemilih independen yang mengalami perubahan. Komposisi pemilih yang secara langsung mengidentifikasi diri dengan partai politik tertentu juga ikut bergeser.

Secara nasional, sebanyak 31 persen pemilih kini menyebut dirinya Demokrat. Angka tersebut meningkat dari 28 persen saat Trump kembali menjabat sebagai presiden.

Meski demikian, kelompok pemilih yang tidak mengidentifikasi diri dengan Partai Demokrat maupun Republik masih menjadi mayoritas.

The New York Times bahkan menyebut kondisi tersebut memberikan Demokrat keunggulan terbesar atas Partai Republik sejak 2008.
Sementara itu, dukungan terhadap pemilih independen yang condong ke Partai Republik mengalami penurunan sembilan poin sejak kuartal keempat 2022.

Tren tersebut berpotensi menjadi persoalan serius bagi kandidat Republik yang membutuhkan suara pemilih moderat untuk memenangkan persaingan ketat.

Tekanan terhadap Partai Republik semakin besar karena tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump juga terus mengalami penurunan selama periode keduanya di Gedung Putih.

Persoalan ekonomi menjadi salah satu sorotan. Trump sebelumnya menjadikan tingginya biaya hidup sebagai salah satu isu utama kampanyenya dengan menyoroti kondisi ekonomi pada era pemerintahan Joe Biden.

Namun, persoalan inflasi belum sepenuhnya mereda. Inflasi AS masih berada di atas target 2 persen bank sentral AS sejak konflik Iran pecah pada Februari.

Ketegangan di Timur Tengah serta meningkatnya biaya akibat terganggunya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz juga mulai disebut pemilih sebagai faktor yang memengaruhi turunnya dukungan terhadap Trump.

Di tengah perubahan peta politik tersebut, Partai Republik mencoba mengubah strategi dengan menyerang kelompok Demokrat yang mereka anggap terlalu condong ke sosialisme.

Nama seperti Wali Kota New York Zohran Mamdani dan kandidat Demokrat untuk Senat AS dari Michigan, Abdul el Sayed, menjadi bagian dari narasi yang digunakan Partai Republik untuk menghadapi persaingan di sejumlah daerah.

Komite Nasional Partai Republik bahkan menggelar konvensi bernuansa kampanye di Texas pada pekan ini. Dalam agenda tersebut, Partai Republik mengusung narasi pertarungan antara akal sehat versus kegilaan.

Survei Gallup ini dilakukan terhadap lebih dari 3.000 orang dewasa di Amerika Serikat menggunakan sampel acak gabungan. Survei tersebut memiliki margin of error sekitar dua poin persentase.

Dengan pemilu paruh waktu semakin dekat, perubahan arah dukungan pemilih independen kini menjadi salah satu sinyal politik yang paling diperhatikan. Jika tren tersebut terus berlanjut, persaingan Demokrat dan Republik diperkirakan bakal semakin panas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *