Internasional

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Konflik Timur Tengah Kembali Picu Kekhawatiran Pasokan

×

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Konflik Timur Tengah Kembali Picu Kekhawatiran Pasokan

Sebarkan artikel ini
Cadangan Minyak Dunia Menyusut Drastis
Harga Minyak Dunia Turun (Pixabay)

KITAINDONESIASATU.COM – Harga minyak dunia kembali mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Asia, Rabu (29/7/2026).

Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah terjadi serangkaian aksi militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Arab Saudi.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama dari kawasan yang selama ini menjadi salah satu pemasok minyak terbesar dunia.

Kontrak minyak Brent maupun West Texas Intermediate (WTI) sama-sama menguat lebih dari tiga persen setelah sempat mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya.

Pergerakan harga minyak kini kembali menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi inflasi, biaya logistik, hingga harga energi di berbagai negara.

Ketegangan Timur Tengah Dorong Harga Minyak Naik

Kenaikan harga minyak terjadi setelah laporan mengenai meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Situasi memanas usai Iran melancarkan serangan terhadap pasukan Amerika Serikat di kawasan, yang kemudian dibalas melalui operasi militer bersama Arab Saudi terhadap sejumlah lokasi yang disebut berkaitan dengan kelompok pendukung Teheran di Irak.

Di saat yang sama, aktivitas mencurigakan juga dilaporkan terjadi di wilayah Laut Merah. Insiden tersebut semakin memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan jalur pelayaran internasional yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Kondisi semakin diperburuk oleh meningkatnya ancaman terhadap fasilitas energi di kawasan.

Kekhawatiran mengenai terganggunya produksi maupun distribusi minyak membuat pelaku pasar kembali melakukan pembelian kontrak minyak sehingga mendorong harga bergerak lebih tinggi.

Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sikap bank sentral AS dinilai dapat memengaruhi prospek permintaan energi global dalam beberapa bulan ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *