Internasional

China Sebut Tuduhan Senjata ke Iran Hoaks, Balik Ancam Donald Trump

×

China Sebut Tuduhan Senjata ke Iran Hoaks, Balik Ancam Donald Trump

Sebarkan artikel ini
Guo
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.

KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah China akhirnya buka suara dan membantah mentah-mentah tudingan bahwa mereka memasok senjata ke Iran. Tuduhan yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bahkan disebut tidak berdasar dan dibuat-buat.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa negaranya selalu bertindak hati-hati dan patuh terhadap aturan internasional dalam ekspor militer. Ia menyebut laporan soal suplai senjata ke Iran sebagai hoaks besar yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Sebelumnya, Trump mengancam akan menjatuhkan tarif tambahan hingga 50 persen terhadap produk China jika tuduhan tersebut terbukti. Namun Beijing tak tinggal diam. China memperingatkan akan melakukan serangan balasan ekonomi jika Washington nekat melanjutkan kebijakan itu.

Di sisi lain, situasi Timur Tengah ikut memanas. Korps Garda Revolusi Islam Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim masih menyimpan kekuatan militer rahasia yang belum dikeluarkan. Juru bicaranya, Hossein Mohebbi, bahkan mengancam akan membuka kemampuan tersembunyi jika perang dengan AS dan Israel terus berlanjut.

Tak hanya itu, Kementerian Pertahanan Iran melalui Reza Talaeinik juga mengungkap bahwa persenjataan mereka—mulai dari rudal, drone hingga amunisi—dalam kondisi siap tempur penuh untuk operasi ofensif maupun defensif.

Sementara itu, langkah blokade di Selat Hormuz yang diperintahkan Trump justru menuai kritik keras dari China. Beijing menilai kebijakan tersebut sebagai tindakan berbahaya dan tidak bertanggungjawab yang hanya akan memperkeruh situasi dan mengancam jalur vital pasokan energi dunia.

China pun mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Menurut Beijing, hanya gencatan senjata penuh yang bisa menyelamatkan kawasan dari kehancuran lebih lanjut.

Namun kenyataannya, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak akhir Februari 2026 sudah menelan korban besar—lebih dari 1.400 jiwa melayang dan kerugian ratusan miliar dolar.

Meski sempat tercapai gencatan senjata sementara, negosiasi damai kembali buntu. Isu panas soal Selat Hormuz menjadi pemicu utama kebuntuan, dan kini dunia pun kembali di ambang eskalasi besar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *