News

Hortikultura Hadapi Tantangan Besar Pascapanen

×

Hortikultura Hadapi Tantangan Besar Pascapanen

Sebarkan artikel ini
Hortikultura Hadapi Tantangan Besar Pascapanen
Manajemen pascapanen presisi menjadi solusi menekan losses dan menjaga mutu hortikultura tropika melalui teknologi kimia, biologis, fisik, dan LED.

KITAINDONESIASATU.COM- Sektor hortikultura berperan strategis dalam mendukung ketahanan pangan, meningkatkan mutu gizi masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, produk hortikultura memiliki tantangan besar setelah dipanen. Produk tetap mengalami aktivitas fisiologis yang dapat menyebabkan penurunan mutu, terutama dalam kondisi tropika dengan suhu dan kelembapan relatif tinggi.

Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Ketty Suketi, mengatakan kondisi tersebut juga meningkatkan risiko serangan patogen dan kerugian pascapanen.

“Keragaman karakter fisiologis dan umur simpan antarkomoditas turut meningkatkan postharvest losses, menyebabkan kerugian ekonomi, dan menghambat daya saing hortikultura Indonesia,” kata Prof. Ketty dalam pra-orasi ilmiah dengan judul Manajemen Pascapanen Presisi untuk Menekan Losses dan Meningkatkan Mutu Hortikultura Tropika yang digelar secara daring, Kamis, 20 Agustus 2026.

Fisiologi Komoditas Jadi Dasar Penanganan

Menurut Prof. Ketty, keberhasilan penanganan pascapanen ditentukan oleh sejumlah faktor. Di antaranya kondisi prapanen, ketepatan waktu panen, karakter fisiologis produk, serta perlakuan pascapanen.

Pemahaman terhadap fisiologi setiap komoditas menjadi landasan penting untuk menentukan teknologi pascapanen yang sesuai.

Teknologi Disesuaikan dengan Karakter Komoditas

Konsep manajemen pascapanen presisi dikembangkan melalui teknologi pascapanen yang disesuaikan dengan karakter fisiologis komoditas, fase perkembangan, dosis dan waktu aplikasi, serta kondisi lingkungan.

Dengan pendekatan tersebut, pengendalian proses fisiologis produk dapat dilakukan secara lebih efektif untuk mempertahankan mutu sekaligus memperpanjang umur simpan.

Manajemen Pascapanen Presisi Dikembangkan

Konsep manajemen pascapanen presisi antara lain diterapkan melalui penentuan umur panen berbasis satuan panas pada pepaya dan pisang. Pendekatan ini berkontribusi terhadap presisi waktu panen produk.

Selain itu, pengaturan pematangan buah klimakterik yang dipanen awal menggunakan etilen/ethrel pada melon cantaloupe berkontribusi terhadap presisi pengaturan pematangan.

Sementara itu, pengelolaan fisiologi buah nonklimakterik pada melon golden alisha menggunakan silika dan asam klorogenat prapanen berkontribusi terhadap presisi intervensi prapanen berdasarkan fisiologi komoditas.

“Ketiga penelitian tersebut menjadi dasar pengembangan teknologi pascapanen berbasis kimia, biologis, dan fisik,” imbuh Prof. Ketty.

Teknologi Kimia untuk Menargetkan Proses Fisiologis

Prof. Ketty menjelaskan, teknologi pascapanen berbasis kimia memanfaatkan sejumlah senyawa untuk menargetkan proses fisiologis komoditas.

Teknologi tersebut antara lain menggunakan kitosan dan 1-MCP pada pepaya dan salak, asam askorbat dan 6-benzylaminopurine pada rambutan, serta kalium permanganat pada pisang.

Pendekatan tersebut berkontribusi terhadap presisi penargetan proses fisiologis dengan senyawa aktif tertentu.

Teknologi Biologis Kendalikan Patogen

Teknologi pascapanen berbasis biologis juga menjadi bagian dari konsep tersebut.

Penggunaan khamir antagonis pada pepaya dan mangga berkontribusi terhadap presisi pengendalian patogen sehingga dapat membantu memperpanjang umur simpan produk hortikultura.

Teknologi Fisik Manfaatkan Cahaya

Sementara itu, teknologi pascapanen berbasis fisik diterapkan menggunakan sinar UV-C pada cabai merah dengan dua stadia kematangan.

Teknologi LED juga digunakan pada cabai merah keriting, rambutan, dan pepaya. Pendekatan tersebut berkontribusi terhadap presisi pengaturan fisiologi melalui dosis dan spektrum cahaya sehingga mutu produk dapat dipertahankan.

Paradigma Pascapanen Mulai Bergeser

Rangkaian penelitian yang dilakukan Prof. Ketty menghasilkan konsep baru yang disebut manajemen pascapanen presisi.

Konsep tersebut menunjukkan adanya perubahan pendekatan dalam teknologi pascapanen. Penanganan produk tidak lagi hanya berorientasi pada memperpanjang umur simpan, tetapi juga mengendalikan proses fisiologis sesuai karakter masing-masing komoditas.

“Perkembangan teknologi pascapanen menunjukkan pergeseran paradigma dari sekadar memperpanjang umur simpan menuju pengelolaan proses fisiologis secara presisi sesuai karakter komoditas,” katanya.

Manajemen Terintegrasi Jadi Kunci

Menurut Prof. Ketty, pendekatan manajemen pascapanen presisi membutuhkan manajemen terintegrasi dengan memadukan teknologi kimia, biologis, dan fisik.

Pemanfaatan cahaya sebagai sinyal biologis juga menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan teknologi pascapanen ke depan.

LED Dinilai Menjanjikan

Teknologi LED menjadi salah satu teknologi yang dinilai memiliki prospek dalam mengarahkan metabolisme produk secara presisi.

“Teknologi LED menjadi salah satu teknologi yang menjanjikan untuk dikembangkan dalam mengarahkan metabolisme produk secara presisi, menekan losses, dan meningkatkan nilai tambah serta daya saing hortikultura Indonesia,” pungkasnya.

Dengan pendekatan tersebut, manajemen pascapanen presisi diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam upaya menekan postharvest losses, mempertahankan mutu, meningkatkan nilai tambah, dan memperkuat daya saing hortikultura Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *