KITAINDONESIASATU.COM – Harga minyak dunia kembali mengalami lonjakan tajam pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026, menyusul meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Konflik terbaru kedua negara memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global, terutama di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu utama pengiriman minyak dunia.
Pada perdagangan sore, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 naik sekitar 3,51 persen atau bertambah US$2,67 menjadi US$78,68 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus 2026 juga menguat 3,47 persen menjadi US$73,89 per barel.
Kenaikan harga tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global akibat memanasnya situasi keamanan di Timur Tengah.
Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan Harga Minyak Dunia
Ketegangan meningkat setelah serangkaian serangan militer yang terjadi pada akhir pekan. Iran dilaporkan kembali menyatakan penutupan Selat Hormuz, sementara serangan juga diarahkan ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat vital bagi perdagangan energi dunia.
Sebelum konflik memanas, kawasan tersebut menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global setiap harinya. Karena itu, setiap gangguan di wilayah tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar internasional.
Meningkatnya risiko keamanan juga berdampak pada aktivitas pelayaran. Sejumlah operator kapal memilih memperlambat pergerakan armada mereka sebagai langkah antisipasi terhadap situasi yang belum stabil. Akibatnya, lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan.
Di sisi lain, konflik terbaru turut memunculkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya diharapkan mampu menjaga stabilitas kawasan serta menjamin kelancaran distribusi energi.
Meski demikian, sejumlah lembaga keuangan internasional memperkirakan risiko gangguan pasokan dapat berkurang dalam beberapa tahun ke depan seiring pembangunan jaringan pipa minyak alternatif di kawasan Timur Tengah.
Infrastruktur tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap jalur Selat Hormuz sebagai rute utama ekspor minyak.
Sementara itu, pasar energi global masih akan terus mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Selama ketegangan belum mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi karena pelaku pasar terus mengantisipasi potensi gangguan terhadap pasokan energi dunia.





