KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan mulai mengkhawatirkan dampak politik jika harga bensin melampaui angka 3 dolar AS per galon.
Kekhawatiran ini muncul di tengah ketidakpastian pasar energi global yang dipicu konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah analis menilai lonjakan harga bahan bakar dapat memengaruhi stabilitas politik domestik, terutama menjelang momentum penting seperti pemilu.
Kondisi ini membuat pemerintahan Donald Trump terus memantau pergerakan harga energi secara ketat.
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi
Kenaikan harga bensin tidak terlepas dari eskalasi konflik antara AS dan Iran yang berdampak langsung pada distribusi energi global.
Ketegangan di jalur strategis seperti Selat Hormuz sempat mengganggu arus pengiriman minyak dan gas, sehingga memicu lonjakan harga di pasar internasional.
Situasi ini diperparah oleh prediksi bahwa harga energi belum akan kembali stabil dalam waktu dekat. Hal tersebut meningkatkan tekanan terhadap pemerintah, baik dari sisi ekonomi maupun politik.
Jika harga bensin terus bertahan di level tinggi, daya beli masyarakat berpotensi tergerus. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga dapat memengaruhi persepsi publik terhadap kebijakan pemerintah dalam mengelola krisis energi yang sedang berlangsung.(*)


