KITAINDONESIASATU.COM- Di tengah meningkatnya tantangan perkembangan remaja akibat paparan gadget dan media sosial, sebanyak 40 guru Bimbingan Konseling (BK) dan guru wali Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kota Bogor mengikuti kegiatan Penguatan Kompetensi dan Pendidikan Karakter yang berlangsung di Aula Utama Rizen Padjajaran Hotel, Jalan Binamarga II, Kota Bogor, Kamis 23 April 2026, kemarin.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor dan berkolaborasi dengan Tim Bogor Gerakan untuk Lintas Generasi (Geulis) sebagai upaya dalam meningkatkan kapasitas pendampingan guru terhadap siswa SMP di tengah tantangan perkembangan zaman.
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor, Yantie Rachim, sekaligus founder Bogor Geulis menegaskan pentingnya penguatan kompetensi guru dalam mendampingi perkembangan karakter dan emosi peserta didik, khususnya di jenjang SMP.
Yantie Rachim menyampaikan bahwa perkembangan anak usia 12–15 tahun saat ini memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya, terutama dengan adanya pengaruh gadget dan media sosial.
Ia turut menjelaskan bahwa adanya kesenjangan komunikasi antargenerasi menjadi salah satu faktor yang membuat pendekatan kepada anak-anak saat ini menjadi lebih menantang.
“Perkembangan anak-anak usia 12–15 tahun dengan berbagai permasalahannya memang tidak mudah, apalagi sekarang sudah terpapar gadget dan media sosial. Kalau kita tidak tahu ilmunya dan tidak memahami permasalahannya, itu akan menjadi gap dalam komunikasi,” ujar Yantie Rachim.
Ia menuturkan bahwa anak-anak di usia tersebut cenderung mendapatkan banyak informasi secara instan melalui perangkat digital, sehingga membutuhkan pendampingan yang tepat agar tidak salah dalam menyerap informasi.
“Sekarang anak-anak bisa mendapatkan banyak hal dari HP mereka. Kalau kita tidak mendampingi, mereka bisa menyerap segala hal dari situ. Maka perlu kita arahkan bahwa apa yang mereka dapatkan itu harus melalui proses, bukan hanya melihat hasil,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dalam pergaulan sosial, remaja cenderung lebih dekat dengan teman sebaya dan mulai tertarik dengan lawan jenis, sehingga membutuhkan perhatian dan pendampingan yang lebih intens.
“Di usia ini mereka sedang mencari jati diri, emosinya labil, ingin dianggap dewasa, lebih senang bermain dengan temannya, dan lebih sensitif terhadap penilaian orang lain. Cara berpikir mereka juga sudah mulai kritis, jadi kalau kita tidak memahami itu, bisa terjadi kesenjangan komunikasi,” ungkapnya.
Menurutnya, guru BK dan guru wali memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam membentuk karakter siswa melalui interaksi sehari-hari di sekolah.
Oleh karena itu, melalui kegiatan ini Yantie Rachim berharap agar para guru dapat meningkatkan kapasitas diri serta memperkaya pendekatan dalam mendampingi siswa.
“Melalui interaksi di sekolah, guru memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan penuh kasih. Maka dari itu saya berharap melalui kegiatan ini, Bapak Ibu dapat memperkaya ilmu pendekatan dalam mendampingi siswa, serta mampu menjadi agen perubahan dalam membentuk generasi Kota Bogor,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Tim Bogor Geulis turut serta menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Adapun materi yang dibawakan oleh tim Bogor Geulis adalah “Berani Menjadi Aku” yang disampaikan oleh Medi, serta “Dunia Remaja, Aku Berbeda, Self Awareness, dan Pola Asuh Anak Remaja” oleh Anita. (Nicko)

