News

Di Balik Khidmat Zikir Kebangsaan Monas, 100 Tenaga Medis Bersiaga Hadapi Kondisi Darurat

×

Di Balik Khidmat Zikir Kebangsaan Monas, 100 Tenaga Medis Bersiaga Hadapi Kondisi Darurat

Sebarkan artikel ini
Dokter memeriksa kondisi kesehatan seorang peserta di tengah rangkaian Zikir dan Doa Kebangsaan di kawasan Monas.
Dokter memeriksa kondisi kesehatan seorang peserta di tengah rangkaian Zikir dan Doa Kebangsaan di kawasan Monas. (Humas Kemenag)

KITAINDONESIASATU.COM – Di balik khusyuknya lantunan zikir dan doa yang menggema di kawasan Monumen Nasional (Monas) menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, ada ratusan tenaga kesehatan yang bekerja tanpa henti memastikan seluruh rangkaian acara berlangsung aman. Saat ribuan jemaah menengadahkan tangan memanjatkan doa, para petugas medis justru tetap siaga mengawasi setiap sudut lokasi untuk mengantisipasi kondisi darurat.

Pos-pos layanan kesehatan yang tersebar di berbagai titik kawasan Monas dipenuhi berbagai perlengkapan medis, mulai dari infus, obat-obatan, tabung oksigen, kursi roda, hingga ambulans yang siap digunakan kapan saja. Seluruh fasilitas tersebut disiapkan sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai gangguan kesehatan yang bisa muncul di tengah kerumunan peserta dari berbagai usia.

Dokter Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Arifah, mengungkapkan bahwa pos kesehatan telah dilengkapi dengan fasilitas penanganan medis yang memadai. Menurutnya, tenaga kesehatan siap memberikan pertolongan mulai dari perawatan luka ringan, pemberian obat simptomatis, tindakan injeksi, hingga penanganan kondisi yang membutuhkan oksigen maupun rujukan lebih lanjut.

Selama acara berlangsung, sejumlah peserta sempat mendapatkan penanganan medis. Keluhan yang paling banyak ditemui di antaranya luka ringan pada kaki, tubuh lemas, mual dan muntah, pusing atau keleyengan, hingga tekanan darah tinggi akibat kelelahan maupun aktivitas di tengah keramaian.

Bagi Arifah, bertugas dalam kegiatan kebangsaan bukan sekadar menjalankan profesi sebagai tenaga medis. Ia mengaku bangga dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat sehingga seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian Zikir dan Doa Kebangsaan dengan lebih tenang.

Kesiapsiagaan tersebut tidak hanya mengandalkan satu pos kesehatan. Kementerian Kesehatan sebagai koordinator utama menyiapkan tujuh pos layanan medis yang tersebar di seluruh kawasan Monas. Setiap pos diisi sekitar 15 hingga 16 tenaga kesehatan sehingga total personel yang diterjunkan mencapai lebih dari 100 orang.

Direktorat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, Bagus, menjelaskan seluruh koordinasi penanganan medis dipusatkan di Kementerian Kesehatan. Setiap laporan dari petugas lapangan langsung diterima untuk mempercepat proses penanganan, termasuk apabila ada peserta yang harus dirujuk ke rumah sakit.

Pelayanan kesehatan dalam acara nasional ini juga melibatkan kolaborasi berbagai instansi, mulai dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puskesmas, hingga sejumlah rumah sakit umum daerah. Sinergi tersebut dilakukan agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau seluruh peserta secara cepat dan optimal.

Menurut Bagus, tantangan terbesar adalah memastikan seluruh tenaga kesehatan tetap fokus sepanjang acara karena peserta yang hadir berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Beragam potensi kondisi medis membuat setiap petugas harus selalu waspada agar risiko insiden dapat ditekan semaksimal mungkin.

Hingga acara berakhir, lantunan doa dan salawat terus menggema di bawah langit malam Monas. Di balik suasana penuh khidmat itu, para tenaga medis tetap berdiri di pos-pos mereka tanpa lengah, menjadi garda terdepan yang memastikan ratusan ribu peserta dapat mengikuti Zikir dan Doa Kebangsaan dengan aman, nyaman, dan lancar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *