Menurut Iskandar, tim akademisi akan melakukan identifikasi berbagai tantangan yang dihadapi industri kulit Garut, mulai dari aspek produksi, teknologi, hingga rantai pasok.
Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menyusun strategi penguatan industri secara komprehensif.
“Tim kami akan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi industri kulit Garut, kemudian memperkuat konsep perencanaan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar implementasi program berjalan optimal,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut dari kolaborasi industri kulit Garut, pihak IPB dan AIC berencana menggelar workshop berupa kick-off meeting yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, serta mitra internasional.
Direktur Australia-Indonesia Centre, Kevin Evans, mengaku terkesan dengan potensi agrobisnis di Garut, termasuk kualitas bahan baku yang mendukung perkembangan industri kulit Garut.
Ia bahkan mengaku telah mengenal kualitas kulit asal Garut sejak lebih dari satu dekade lalu dan menilai strategi globalisasi industri kulit Garut memiliki peluang besar untuk berkembang.


