SSC: Bukan Sekadar Masalah Pengairan
Kepala Sekolah Sungai Cimanuk, Yanto Rangkuti, menegaskan bahwa kondisi yang dialami petani membutuhkan kepedulian bersama. Menurutnya, penanganan kekeringan tidak cukup dipandang sebagai persoalan teknis pengairan, tetapi juga menyangkut kehidupan petani dan keberlanjutan pangan.
“Ini adalah salah satu bentuk kepedulian dan tanggung jawab bersama tentang tanggap darurat. Ada 42 hektare yang mengalami kekeringan ekstrem dan sudah puso. Kami tidak bisa diam, ini soal perut petani dan masa depan pangan kita,” ujar Yanto.
Ia mengatakan, keterlibatan SSC dalam penanganan tersebut merupakan bentuk pengabdian terhadap lingkungan dan masyarakat yang terdampak.
“Kami di sini murni untuk mendedikasikan diri terhadap lingkungan, terhadap petani, dan terhadap alam. Tetap kita jaga alam, alam pasti jaga kita,” tambahnya.
Yanto juga mengapresiasi dukungan BBWS Cimanuk-Cisanggarung dalam membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian yang terdampak.
Menurutnya, kerja sama lintas lembaga diperlukan agar penanganan darurat dapat berjalan lebih cepat dan upaya menjaga ketahanan pangan tidak hanya dibebankan kepada satu pihak.





