News

Catat Tanggalnya! Malam 1 Suro 2026 Jatuh 16 Juni, Ini Tradisi dan Pantangan yang Masih Dipercaya

×

Catat Tanggalnya! Malam 1 Suro 2026 Jatuh 16 Juni, Ini Tradisi dan Pantangan yang Masih Dipercaya

Sebarkan artikel ini
malam satu suro
Ilustrasi Malam Satu Suro.

KITAINDONESIASATU.COM – Malam 1 Suro kembali menjadi momen yang paling ditunggu sekaligus diselimuti nuansa sakral oleh masyarakat Jawa. Pada tahun 2026, malam yang identik dengan ritual spiritual, doa, dan berbagai tradisi turun-temurun ini diperingati pada Selasa malam, 16 Juni 2026.

Berdasarkan kalender Jawa, Malam 1 Suro bertepatan dengan pergantian Tahun Baru Jawa sekaligus beririsan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah. Karena tradisi Jawa menghitung pergantian hari sejak waktu magrib, rangkaian peringatan akan dimulai sejak Selasa petang hingga dini hari Rabu, 17 Juni 2026.

Bagi masyarakat Jawa, Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun. Momen ini dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta membersihkan batin dari berbagai energi negatif yang dianggap menghambat kehidupan.

Tradisi ini juga dikenal sebagai waktu untuk “mesu budi”, yakni menahan hawa nafsu, memperbaiki diri, dan memohon keselamatan untuk tahun yang akan datang. Tak heran jika banyak orang memilih menggelar doa bersama, tirakat, hingga ritual khusus pada malam tersebut.

Sejumlah daerah di Pulau Jawa memiliki tradisi unik yang selalu menarik perhatian publik setiap Malam 1 Suro. Salah satu yang paling terkenal adalah Kirab Kebo Bule di Surakarta. Dalam ritual ini, kerbau putih keturunan Kiai Slamet diarak bersama pusaka Keraton Kasunanan Surakarta dan dipercaya membawa keberkahan bagi masyarakat.

Sementara di Yogyakarta, ribuan warga biasanya mengikuti ritual Mubeng Beteng atau Tapa Bisu dengan berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai simbol pengendalian diri dan perenungan spiritual.

Tak hanya itu, Malam 1 Suro juga identik dengan tradisi jamasan pusaka, yaitu pencucian benda-benda bersejarah seperti keris, tombak, dan gamelan yang diyakini memiliki nilai budaya dan spiritual tinggi.

Di sejumlah wilayah pesisir, masyarakat menggelar larung sesaji ke laut sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diterima sekaligus memohon keselamatan dari berbagai bencana.

Di balik tradisi yang masih lestari hingga kini, Malam 1 Suro juga lekat dengan berbagai pantangan yang dipercaya sebagian masyarakat. Mulai dari larangan menggelar pesta atau hajatan besar, menghindari aktivitas yang dianggap kurang baik, hingga menjaga ucapan dan perilaku selama malam sakral tersebut.

Meski sebagian pantangan tersebut lebih banyak dipandang sebagai warisan budaya dan kepercayaan lokal, Malam 1 Suro tetap menjadi salah satu tradisi yang memiliki nilai spiritual, budaya, dan filosofi mendalam bagi masyarakat Jawa hingga saat ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *