Menanggapi laporan tersebut, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa saat ini sudah ada empat provinsi yang menetapkan status siaga darurat karhutla, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Ia mendorong daerah lain, termasuk Kalimantan Selatan, untuk segera menetapkan status siaga jika curah hujan menurun.
“Kalau hujan mulai berkurang, segera bersurat untuk penetapan status siaga. Itu menjadi dasar bantuan logistik, OMC, hingga pengoperasian satgas udara dari BNPB,” ujar Suharyanto.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, sepanjang 1 Januari hingga 1 Juli 2025, tercatat 23 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 19,50 hektare. Kota Banjarbaru mencatat jumlah kejadian tertinggi, yakni 20 kasus dengan luas lahan terdampak 14,7 hektare.
Meski beberapa kabupaten seperti Balangan, Tapin, dan Tabalong belum mengalami kejadian karhutla langsung, ketiga daerah itu mencatat jumlah titik panas (hotspot) yang tinggi. Balangan mencatat 439 hotspot, tertinggi di wilayah Kalsel, disusul Tabalong dengan 105 titik dan Tapin 88 titik.
Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan memperkuat mitigasi serta pencegahan sejak dini agar kebakaran tidak meluas saat musim kemarau mencapai puncaknya nanti. (Anang Fadhilah)


