Lifestyle

Wedang Tiyung dan Teh Sruni, Minuman Penguat Jenderal Soedirman

×

Wedang Tiyung dan Teh Sruni, Minuman Penguat Jenderal Soedirman

Sebarkan artikel ini
FotoJet 52
Wedang Tiyung

KITAINDONESIASATU.COM – Perang gerilya yang dipimpin oleh Jenderal Soedirman menyimpan banyak kisah menarik.

Salah satu peristiwa bersejarah terjadi ketika Jenderal Soedirman dan pasukannya menetap di daerah Kretek selama hampir sepekan.

Wilayah yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Yogyakarta itu dipilih karena kondisi Kali Opak saat itu sedang meluap, sehingga perjalanan mereka tertahan.

Dalam buku Tempo, seorang tentara dapur bernama Jamaluddin masih mengingat tugasnya dalam menyediakan makanan dan minuman bagi pasukan.

Ia juga mengingat teriakan dokter pribadi Jenderal Soedirman, Soewondo, yang meminta wedang untuk sang jenderal.
Selain itu, Kapten Soepardjo Roestam selalu memastikan agar Soedirman mendapatkan teh panas. Hal ini dilakukan karena kondisi kesehatan Soedirman yang menurun, dan minuman hangat serta manis dianggap mampu memberikan kenyamanan baginya.

Jamaluddin bahkan masih mengingat jenis teh yang biasa disajikan untuk sang jenderal. Salah satunya adalah Teh Sruni, teh beraroma langu yang menjadi jatah minuman bagi para tentara Republik.
Selain itu, Soedirman juga menyukai wedang tiyung, yakni seduhan daun jeruk dengan air panas dan gula pasir yang menghasilkan warna merah.

Minuman ini sering digunakan Soedirman untuk membantu menelan obat-obatan, termasuk codeine, yang dikonsumsinya untuk mengatasi gangguan pernapasan.
Sejak menjalani operasi pada November 1948, Soedirman hanya bertahan dengan satu paru-paru.

Dalam urusan makanan, Jenderal Soedirman tidak pernah meminta perlakuan khusus. Ia selalu makan hidangan yang sama dengan prajuritnya.

Di masa gerilya, pilihan makanan sangat terbatas, sehingga sering kali ia hanya makan nasi dengan rebusan daun lembayung atau tempe.

Biasanya, makanan untuk Jenderal Soedirman dikirim menggunakan rantang dan diantar hingga pintu kamarnya.
Namun, dari tiga rantang yang disediakan, sering kali hanya satu yang habis karena sang jenderal kerap berpuasa.

Selain dapur umum, bantuan makanan juga datang dari penduduk sekitar, meskipun mereka sendiri mengalami kesulitan pangan.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, Jenderal Soedirman pernah meminta perhiasan milik Siti Alfiah ditukarkan dengan ayam dan beras.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *