KITAINDONESIASATU.COM — Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah al-Sakandari terus menjadi panduan spiritual penting bagi para pencari kedekatan kepada Allah. Dalam mutiara hikmah yang ke-84, beliau mengingatkan umat Islam mengenai hakikat kenikmatan lahir dan batin yang sering kali terabaikan oleh manusia dalam kesibukan dunia.
Poin utama dalam hikmah tersebut menyatakan bahwa anugerah terbesar bagi seorang hamba bukanlah sekadar limpahan harta benda, melainkan ketika Allah memberikan rezeki berupa rasa puas dalam menjalankan ketaatan serta sifat qanaah atau merasa cukup dengan apa yang telah ditetapkan-Nya.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa rasa lapang dada untuk taat adalah bentuk nikmat batin tertinggi. Ketika seseorang merasa berat beribadah, itu tandanya hatinya masih terpaut pada gemerlap selain Sang Pencipta.
Sebaliknya, kemudahan dan ketenangan dalam beribadah menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba tersebut.
Melalui pesan moral ini, pembaca diajak untuk mengevaluasi kembali orientasi hidup sehari-hari. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak kepemilikan materi, melainkan dari seberapa besar ketulusan hati menikmati kedekatan diri kepada Allah SWT melalui ketaatan yang konsisten dan jiwa yang senantiasa bersyukur.(*)

