KITAINDONESIASATU.COM — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, ajaran tasawuf Syekh Ibn Ata’illah as-Sakandari dalam kitab legendaris Al-Hikam kembali menjadi pengingat penting bagi umat.
Hikmah ke-22 menegaskan bahwa tidak ada hal yang lebih bermanfaat bagi penataan hati selain melakukan uzlah (mengasingkan diri sejenak) yang disertai dengan tafakur (perenungan mendalam).
Dalam ajaran tersebut, uzlah bukan sekadar melarikan diri dari realitas sosial, melainkan sarana introspeksi diri. Dengan mengambil jarak dari kebisingan duniawi, seorang hamba dapat memasuki medan pemikiran untuk mengenali hakikat diri, memperbaiki niat, serta mendekatkan jiwa kepada Sang Pencipta.
Para ulama menilai pesan ini sangat relevan dengan dinamika masyarakat saat ini yang kerap mengalami kelelahan mental akibat paparan informasi tanpa henti. Mengalokasikan waktu untuk menyendiri dan merenungi perjalanan hidup terbukti mampu menjernihkan pikiran serta mengembalikan kedamaian batin.
Melalui hikmah ke-22 ini, umat diajak untuk senantiasa menyeimbangkan antara kesibukan lahiriah dan kesehatan rohani. Uzlah yang berkualitas menjadi kunci utama untuk melahirkan pemikiran yang jernih, sehingga setiap langkah kehidupan senantiasa dijalankan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT.(*)



