Menurutnya, proses tersebut juga melibatkan kerusakan DNA, perubahan protein, serta gangguan komunikasi antarsel. Oleh sebab itu, hasil dari pengukuran epigenetik tidak bisa menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami penuaan yang lebih lambat secara menyeluruh.
Sinclair juga menegaskan bahwa penelitian ini tidak berarti semua orang harus mengonsumsi multivitamin setiap hari.
Orang yang sudah menjalani pola makan seimbang dan memenuhi kebutuhan gizinya mungkin tidak memerlukan suplemen tambahan tertentu. Sebaliknya, suplemen dapat dipertimbangkan oleh orang yang memiliki kekurangan nutrisi atau kebutuhan khusus berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
Multivitamin Bukan Pengganti Pola Makan Sehat
Manfaat multivitamin terhadap kesehatan telah lama menjadi bahan penelitian, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten. Sejumlah penelitian sebelumnya belum menemukan manfaat yang jelas untuk mencegah kematian dini, sedangkan penelitian lain menunjukkan kemungkinan keuntungan pada aspek kesehatan tertentu.
Profesor Luigi Fontana dari University of Sydney, yang juga menjabat sebagai direktur penelitian Healthy Longevity, menyebut studi tersebut sebagai penelitian yang dilakukan dengan baik. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa efek yang ditemukan relatif kecil dan hasilnya tidak sepenuhnya konsisten pada seluruh ukuran penuaan yang diperiksa.
Para ahli juga menekankan pentingnya pola makan seimbang. Konsumsi buah, sayuran, biji-bijian utuh, sumber protein, serta makanan bergizi lainnya tetap menjadi bagian utama dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
Suplemen multivitamin tidak dapat menggantikan seluruh manfaat pola makan sehat. Penggunaannya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, bukan semata-mata karena harapan untuk memperlambat penuaan.





