Karena itu, temuan mengenai jam epigenetik menarik perhatian peneliti yang mempelajari penuaan. Namun, indikator tersebut hanya menggambarkan sebagian dari proses yang kompleks.
Perubahan pada penanda DNA belum tentu langsung berarti seseorang akan lebih sehat, terhindar dari penyakit kronis, atau memiliki usia hidup lebih panjang.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah efek yang teramati bertahan dalam jangka panjang dan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi kesehatan.
Para Ahli Mengingatkan agar Tidak Berlebihan
Dr. Howard Sesso, penulis utama penelitian sekaligus wakil direktur Divisi Kedokteran Pencegahan di Brigham and Women’s Hospital, Amerika Serikat, menilai informasi mengenai manfaat potensial multivitamin penting bagi masyarakat.
“Banyak orang mengonsumsi multivitamin tanpa pemahaman yang kuat tentang manfaatnya, jadi informasi yang dapat diandalkan tentang potensi efek kesehatannya sangat berharga,” ujarnya.
Ia menambahkan, penelitian tersebut membuka peluang untuk mengkaji intervensi yang relatif mudah diakses dan berpotensi mendukung penuaan sehat serta kualitas hidup.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa hasil tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati. Dr. Laura Sinclair, dosen dan peneliti perawatan kesehatan di University of Exeter, Inggris, menjelaskan bahwa jam epigenetik memang dapat digunakan untuk mengukur aspek penuaan biologis, tetapi tidak menggambarkan keseluruhan proses penuaan.





