Senyawa ini meningkatkan proporsi sel kanker yang memasuki fase penuaan dari sekitar 16,5 persen menjadi lebih dari 75 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan senyawa lain yang menghasilkan efek hingga sekitar 66 persen.
Selain efektivitasnya, aspek keamanan juga menjadi perhatian dalam penelitian kanker tersebut.
Berdasarkan uji viabilitas sel, kurkumin bersama CAPE menunjukkan tingkat selektivitas yang tinggi terhadap sel kanker sekaligus lebih aman bagi jaringan sehat.
Dari seluruh senyawa yang diuji, kurkumin dinilai memiliki profil keamanan paling baik.
Penulis utama studi, Profesor Julita Kulbacka, menjelaskan bahwa kurkumin dalam kunyit untuk melawan kanker menunjukkan keseimbangan paling optimal antara kemampuan menghambat perkembangan sel kanker dan toleransi terhadap sel normal.
Hasil pengujian juga memperlihatkan bahwa senyawa tersebut relatif lebih mudah ditoleransi dibandingkan kandidat lainnya.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa hasil studi ini masih berasal dari penelitian laboratorium.
Mereka menegaskan bahwa diperlukan uji praklinis dan uji klinis lebih lanjut untuk memastikan efektivitas serta keamanan kurkumin pada manusia sebelum dapat digunakan sebagai bagian dari pengobatan kanker.





