Untuk menelusuri dampak tersebut, tim peneliti menggabungkan data dari tiga studi yang dilakukan di Kanada dan Jerman sebelum pandemi. Total terdapat 642 partisipan berusia 56 hingga 89 tahun, yang seluruhnya hidup dalam hubungan pasangan.
Selama satu pekan penuh, peserta melaporkan kondisi emosional mereka beberapa kali sehari melalui survei digital. Pada waktu yang sama, sampel air liur dikumpulkan untuk mengukur kadar kortisol, hormon yang berperan penting dalam respons stres. Jumlah pengukuran mencapai puluhan ribu sampel.
Analisis menunjukkan bahwa ketika kedua pasangan secara bersamaan merasa bahagia atau rileks, kadar kortisol mereka menurun secara signifikan.
Efek ini tetap terlihat setelah berbagai faktor pembaur diperhitungkan, termasuk perbedaan usia, jenis kelamin, penggunaan obat, dan ritme biologis harian.
Yoneda menilai temuan ini penting karena efeknya tidak berhenti pada saat kebahagiaan itu terjadi. Pengalaman emosional positif yang dibagi bersama tampaknya membantu tubuh mempertahankan kondisi fisiologis yang lebih tenang dalam jangka waktu lebih panjang.
Menariknya, manfaat tersebut tidak bergantung pada seberapa puas seseorang terhadap hubungannya secara umum. Bahkan pasangan yang menilai hubungan mereka kurang ideal tetap memperoleh efek penurunan stres dari momen kebersamaan yang positif.


