KITAINDONESIASATU.COM – Mengapa seseorang yang sudah tahu narkoba berbahaya masih bisa kembali menggunakannya?Pertanyaan tersebut sering muncul ketika kasus penyalahgunaan narkoba kembali mencuat. Banyak orang menganggap kecanduan semata-mata sebagai persoalan kemauan. Padahal, narkoba dapat mengubah cara kerja otak sehingga dorongan untuk menggunakan zat tersebut menjadi semakin kuat.
Salah satu kuncinya adalah sistem penghargaan atau reward system di otak. Melansir National Institute on Drug Abuse (NIDA), Minggu (4/10), hampir semua zat yang memiliki potensi menyebabkan kecanduan dapat memengaruhi sistem penghargaan otak, secara langsung maupun tidak langsung. Banyak di antaranya meningkatkan aktivitas dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam motivasi, pembelajaran, dan proses penguatan perilaku.
Namun, dopamin bukan sekadar zat pembuat bahagia. Dopamin berperan penting dalam membuat otak belajar bahwa suatu pengalaman perlu diulangi. Ketika seseorang memperoleh pengalaman menyenangkan secara alami, seperti makan, berinteraksi dengan orang yang disayangi atau melakukan aktivitas yang disukai, sistem penghargaan ikut bekerja.
Masalah muncul ketika narkoba membajak mekanisme tersebut. Beberapa narkoba dapat menghasilkan lonjakan sinyal kimia yang jauh lebih kuat dibandingkan rangsangan alami. Lonjakan tersebut kemudian memperkuat hubungan antara penggunaan narkoba, sensasi yang muncul dan berbagai situasi yang mengiringinya.
Otak akhirnya seperti mendapat pesan: pengalaman ini penting, ulangi lagi. Inilah salah satu alasan mengapa keinginan menggunakan narkoba dapat menjadi sangat kuat. NIDA menjelaskan bahwa perubahan pada sirkuit penghargaan dapat membuat lingkungan, orang, tempat atau situasi tertentu yang pernah berkaitan dengan penggunaan narkoba memicu craving, bahkan ketika zat tersebut tidak tersedia.
Lalu, apa sebenarnya kandungan yang membuat narkoba bisa menimbulkan efek tersebut? Jawabannya berbeda-beda karena narkoba bukan satu jenis zat.
Pada kelompok stimulan seperti kokain dan metamfetamin, misalnya, zat tersebut dapat meningkatkan jumlah neurotransmiter tertentu di antara sel-sel saraf atau menghambat proses pengambilannya kembali. Akibatnya, sinyal kimia seperti dopamin dapat meningkat secara tidak normal.
Sementara itu, kelompok opioid bekerja melalui sistem opioid tubuh. Zat dalam kelompok ini dapat memengaruhi reseptor opioid dan menghasilkan perubahan pada rasa nyaman, nyeri, serta sistem penghargaan.
Ada pula zat lain yang bekerja melalui mekanisme berbeda. Karena itu, tidak tepat menyebut semua narkoba bekerja dengan cara yang sama.
Yang menarik, persoalan tidak berhenti pada sensasi awal. Jika otak terus-menerus mendapatkan rangsangan yang sangat kuat, otak dapat beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasinya adalah perubahan pada sistem dopamin sehingga respons terhadap rangsangan tersebut menjadi lebih rendah.
Akibatnya, seseorang dapat membutuhkan jumlah atau paparan yang lebih besar untuk mendapatkan efek yang sebelumnya dirasakan. Fenomena ini dikenal sebagai toleransi.
Pada tahap tertentu, narkoba juga tidak lagi semata-mata dicari untuk mendapatkan rasa senang.
Sebagian orang dapat terus menggunakannya karena muncul dorongan kuat, craving, atau karena ingin menghindari kondisi tidak nyaman ketika tidak menggunakan zat tersebut. Di sinilah kecanduan menjadi persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kurang kuat menahan keinginan.
Perubahan yang berkaitan dengan kecanduan dapat melibatkan bagian otak yang berhubungan dengan pengambilan keputusan, pembelajaran, memori dan pengendalian perilaku. Karena itu, seseorang dapat tetap mengejar narkoba meskipun sudah mengetahui adanya konsekuensi buruk.
Ada satu hal lain yang sering luput. Kecanduan dan ketergantungan fisik tidak selalu identik. Ketergantungan fisik dapat muncul ketika tubuh terbiasa dengan suatu zat dan kemudian mengalami gejala tertentu ketika zat tersebut dihentikan. Sementara kecanduan berkaitan dengan hilangnya kontrol terhadap penggunaan dan dorongan untuk terus menggunakan meski sudah muncul dampak negatif.
Karena itu, rehabilitasi bukan sekadar menghentikan orang memakai narkoba. Penanganan kecanduan dapat membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan jenis zat, pola penggunaan, kondisi medis, kondisi psikologis dan lingkungan sosial seseorang.
Jadi, ketika seseorang disebut nagih narkoba, persoalannya bukan hanya soal mengejar sensasi. Narkoba dapat mengubah sistem pembelajaran dan penghargaan otak. Semakin lama penggunaan berlangsung, semakin kompleks pula hubungan antara zat, otak, kebiasaan, lingkungan dan dorongan untuk kembali menggunakannya.
Itulah sebabnya pencegahan dan rehabilitasi tidak cukup hanya dengan mengatakan jangan pakai narkoba. Pemahaman tentang bagaimana narkoba bekerja di otak juga penting agar masyarakat mengetahui mengapa kecanduan dapat terjadi dan mengapa proses pemulihan membutuhkan penanganan yang serius. (*)



