Namun, tubuh hanya mampu mengonversi ALA menjadi DHA dan EPA dalam jumlah terbatas, sehingga efeknya terhadap tekanan darah dan kesehatan jantung dinilai lebih lemah dibandingkan omega-3 dari laut.
Karena itu, omega-3 nabati lebih dianggap sebagai pelengkap, bukan pengganti ikan.
Dari sisi tekanan darah, efek konsumsi ikan relatif kecil, dengan penurunan rata-rata sekitar 2–3 mmHg.
Pada penderita hipertensi, angka ini sering kali belum mencukupi, sehingga dokter dapat merekomendasikan suplemen minyak ikan sebagai bagian dari strategi perawatan yang lebih luas, termasuk pola makan sehat, penurunan berat badan, dan obat-obatan bila diperlukan.
Suplemen minyak ikan memungkinkan asupan DHA dan EPA harian yang lebih konsisten, membantu mencapai kadar terapeutik dalam darah, serta mampu menurunkan tekanan darah sistolik sekitar 4–5 mmHg pada dosis tertentu.
Selain minyak ikan, tersedia pula minyak laut lain yang kaya omega-3, seperti minyak krill yang mudah diserap, minyak hati ikan kod yang mengandung vitamin A dan D, serta minyak rumput laut yang menjadi alternatif ideal bagi vegetarian.


