Peneliti kemudian mengumpulkan sampel tinja dan urine untuk menganalisis kondisi mikrobioma usus serta berbagai metabolit yang dihasilkan tubuh.
Pada tahap kedua, kelompok peminum kopi diminta menghentikan konsumsi kopi selama dua minggu. Langkah ini dilakukan untuk melihat perubahan yang terjadi pada mikrobioma usus ketika kopi tidak lagi dikonsumsi.
Selanjutnya, pada tahap ketiga, kopi kembali dimasukkan ke dalam pola konsumsi peserta.
Sebagian peserta diberikan kopi berkafein, sementara yang lain mengonsumsi kopi tanpa kafein guna mengetahui apakah manfaat tersebut berasal dari kafein atau senyawa lain yang terkandung dalam kopi.
Kopi Berpengaruh pada Sumbu Usus-Otak
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peminum kopi memiliki komposisi mikrobioma usus yang berbeda dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi kopi.
Menariknya, perubahan tersebut berkurang saat konsumsi kopi dihentikan dan kembali muncul setelah kopi dikonsumsi lagi.
Para peneliti menemukan bahwa kopi memengaruhi apa yang dikenal sebagai “sumbu usus-otak”, yaitu jalur komunikasi antara sistem pencernaan dan otak.



