KITAINDONESIASATU.COM – Influenza A kerap dianggap sebagai penyakit musiman yang akan sembuh dengan sendirinya. Namun, anggapan tersebut perlu lebih hati-hati jika yang terinfeksi adalah orang lanjut usia.
Melansir Clinical Signs and Symptoms of Influenza (CDC), Jumat (2/10), memasuki usia 65 tahun ke atas, risiko mengalami komplikasi serius akibat influenza meningkat. Perubahan sistem kekebalan seiring bertambahnya usia menjadi salah satu faktor yang membuat lansia lebih rentan terhadap komplikasi flu. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok usia 65 tahun ke atas diperkirakan menyumbang sekitar 70–85 persen kematian terkait influenza dan 50–70 persen rawat inap akibat influenza.
Yang membuat influenza pada lansia berbeda adalah gejalanya tidak selalu terlihat seperti flu berat.
Pada sebagian lansia, influenza bahkan dapat berlangsung tanpa demam. Perubahan kondisi mental, perubahan perilaku, penurunan nafsu makan, lemas, atau batuk berkepanjangan justru dapat menjadi bagian dari gambaran penyakit.
Salah satu komplikasi yang paling perlu diwaspadai adalah pneumonia. Influenza dapat menyebabkan pneumonia akibat infeksi virus itu sendiri. Infeksi influenza juga dapat diikuti pneumonia bakteri. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi cedera paru, gagal napas, sepsis hingga kegagalan multi-organ.
Risiko pneumonia memang meningkat pada orang berusia 65 tahun ke atas. Risiko tersebut juga semakin tinggi ketika seseorang memiliki penyakit kronis tertentu, termasuk penyakit jantung, paru, diabetes, atau kondisi lain yang memengaruhi daya tahan tubuh.
Karena itu, batuk dan badan lemas pada lansia tidak selalu tepat dianggap sebagai keluhan ringan yang cukup ditunggu di rumah.
Influenza tidak hanya menyerang saluran pernapasan. Infeksi influenza dapat memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah dimiliki seseorang. Komplikasi atau perburukan dapat berkaitan dengan kondisi seperti gagal jantung, serangan jantung, stroke, diabetes, PPOK dan asma.
Inilah alasan lansia dengan penyakit kronis perlu mendapatkan perhatian lebih cepat ketika mengalami gejala influenza.
Kapan Lansia Perlu Diperiksa?
Lansia yang mengalami gejala influenza sebaiknya tidak menunda berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama bila memiliki penyakit kronis atau kondisi lain yang membuatnya masuk kelompok berisiko.
WHO memasukkan orang berusia 65 tahun ke atas dan orang dengan penyakit kronis sebagai kelompok yang berisiko mengalami influenza berat. Untuk kelompok berisiko atau pasien dengan gejala berat, WHO merekomendasikan mendapatkan penanganan antivirus sedini mungkin sesuai penilaian tenaga kesehatan.
Jika muncul sesak napas, kondisi kesadaran berubah, kelemahan berat, tanda dehidrasi, atau kondisi memburuk cepat, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
Pencegahan tidak berhenti pada penggunaan masker atau menghindari orang yang sedang sakit.
Vaksin influenza tahunan merupakan salah satu cara utama untuk mengurangi risiko influenza dan komplikasinya. Word Health Organization (WHO) merekomendasikan vaksinasi tahunan bagi orang berusia di atas 65 tahun.
CDC pada 2026 juga menyatakan vaksin influenza sangat penting bagi kelompok usia 65 tahun ke atas. Untuk kelompok tersebut, CDC/ACIP memprioritaskan vaksin influenza dosis tinggi, vaksin rekombinan atau vaksin inaktif beradjuvan dibandingkan vaksin standar yang tidak beradjuvan, apabila tersedia. Jika pilihan tersebut tidak tersedia, vaksin influenza standar tetap dapat diberikan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
CDC juga mengingatkan bahwa vaksin influenza dan vaksin pneumokokus memiliki peran berbeda. Influenza dapat meningkatkan risiko penyakit pneumokokus, sehingga status vaksinasi pneumokokus pada lansia sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan. (*)

