Sementara itu, profesor ilmu saraf dan kognisi klinis Catherine Loveday menjelaskan bahwa memasak bukan sekadar aktivitas rumah tangga biasa.
Menurutnya, proses memasak melibatkan banyak fungsi otak sekaligus, mulai dari konsentrasi, memori, pengambilan keputusan, hingga kemampuan memecahkan masalah.
“Persiapan makanan mengaktifkan berbagai bagian otak, terutama area yang terkait dengan pengambilan keputusan, pemrosesan sensorik, kontrol motorik, dan perhatian,” kata Catherine Loveday mengenai manfaat memasak untuk kesehatan otak.
Ia menjelaskan aktivitas memasak yang melibatkan beberapa tahapan sekaligus menjadi latihan mental yang efektif. Saat memasak, seseorang harus memikirkan waktu, mengatur bahan, memantau proses masak, dan beradaptasi jika terjadi perubahan selama proses berlangsung.
Menurut Catherine Loveday, proses berpindah dari satu tugas ke tugas lain saat memasak dapat membantu meningkatkan fleksibilitas otak dan memperkuat koneksi saraf.
Hal tersebut dinilai penting dalam menjaga kesehatan otak agar tetap optimal seiring bertambahnya usia.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya mendorong lansia tetap aktif melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk memasak di rumah, meski sudah memasuki tahap awal penurunan kognitif.
Para ahli menilai aktivitas sederhana seperti memasak dapat membantu mempertahankan kemampuan mental lebih lama dibanding hanya bergantung pada makanan instan atau siap saji.


