KITAINDONESIASATU.COM – Beberapa netizen mengeluhkan cuaca dingin di beberapa wilayah Indonesia. BMKG sebut ada fenomena bedding yang khas menjelas musim kemarau.
Menurut pantauan kita indonesia satu, kata kunci “dingin” sempat menjadi trending di media sosial X pada sabtu (21/6) pagi. Kata kunci tersebut telah ditulis oleh sekitar 11 ribu kali.
“Tangerang dingin, malem dingin, pagi dingin, siang panas yg enggak panas-panas amat, sore ujan lagi sampai malam,” tulis akun X @afhinapi***,
“Kalau Jogja iya dingin juga, jam segini 10.38 WIB, masih dingin,” tulis akun @zakiberk***.
“Pontianak hari ini subuh pagi, siang, malam, dingin sekali…padahal terkenal panasnya,” tulis akun @aguspersi*** dalam twitnya.
Udara Dingin Ciri-Ciri Musim Kemarau
Suhu dingin yang melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh pengaruh musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa kondisi udara yang mulai mengering akibat tiupan angin monsun dari Australia menjadi penanda masuknya musim kemarau.
Udara yang kering inilah yang menyebabkan suhu terasa lebih dingin di berbagai daerah.
Hal senada disampaikan oleh pihak BMKG lainnya, yaitu Supari dari Bidang Analisis Variabilitas Iklim. Menurutnya, suhu di dataran rendah saat ini memang berkisar antara 22 hingga 23 derajat Celsius.
Ia juga menambahkan bahwa perasaan dingin yang dirasakan masyarakat, khususnya di wilayah seperti Jakarta, berkaitan dengan curah hujan yang masih terjadi pada sore atau malam hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau belum memasuki puncaknya, sehingga fenomena dingin yang terjadi bukan disebabkan oleh bediding, melainkan efek dari hujan dan kelembapan udara yang menurun.
Fenomena Bedding
Sementara dikutip dari laman resmi BMKG, Fenomena cuaca dingin saat musim kemarau dikenal sebagai bediding dan dianggap normal.
Kondisi ini terjadi karena minimnya hujan dan berkurangnya tutupan awan, yang menyebabkan panas dari permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer.
Rendahnya kelembapan udara serta langit yang cerah mempercepat pelepasan radiasi panas, sehingga udara terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari.
Di wilayah dekat khatulistiwa, pagi hari terasa sejuk namun siang hari tetap panas karena radiasi matahari langsung. Sementara itu, wilayah selatan Indonesia justru mengalami suhu siang hari yang lebih rendah dibanding periode lainnya.



