KITAINDONESIASATU.COM – Syekh Ibn Ataillah as-Sakandari dalam karya monumentalnya, kitab Al-Hikam, mengajarkan hikmah ke-75 tentang pentingnya keikhlasan dalam beribadah.
Beliau mengingatkan bahwa ketika seorang hamba merasakan manisnya ketaatan, sejatinya ada bahaya terselubung jika rasa manis tersebut justru menjadi tujuan utama, bukan ridha Allah SWT.
Banyak penuntut ilmu dan pengamal tarekat terjebak pada kenikmatan spiritual (hal). Hikmah ini menegaskan bahwa mencari kelezatan beribadah bisa menjadi wujud kealpaan baru jika menutupi keikhlasan murni.
Ibadah sejati adalah menghamba secara total tanpa mengharapkan balasan, baik berupa pahala duniawi maupun kenikmatan rasa di dalam dada.
Para ulama menjelaskan bahwa buah dari pemahaman hikmah ini adalah kerendahan hati. Hamba yang bijak tidak akan terbuai oleh kekhusyukan yang dirasakannya, melainkan terus memeriksa niat agar tetap bersih dari riya dan ujub.
Keikhlasan yang mulus hanya terwujud saat seseorang beribadah semata-mata karena keagungan Allah SWT.
Dengan memahami hikmah ke-75 Al-Hikam, kita diajak bertransformasi dari sekadar pemburu rasa nyaman dalam beragama menjadi hamba sejati yang tulus, konsisten, serta pasrah sepenuhnya kepada Sang Pencipta.(*)

