KITAINDONESIASATU.COM — Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibn ‘Atha’illah As-Sakandari kembali menjadi rujukan penting dalam mendalami spiritualitas Islam.
Pada hikmah ke-19, sang ulama sufi menekaskan pentingnya menjaga kemurnian niat agar amal ibadah tidak terdistorsi oleh keinginan mendapat pujian atau pengakuan dari sesama manusia.
Hikmah ini mengingatkan bahwa kualitas ibadah seorang hamba tidak diukur dari megahnya tampilan lahiriah, melainkan dari ketulusan hati. Beramal demi mengejar apresiasi makhluk hanya akan melahirkan kepalsuan serta mengikis keikhlasan yang menjadi syarat diterimanya suatu amalan.
Pesan tersebut mengajak setiap muslim untuk menyelaraskan fokus hanya pada keridaan Allah. Ketika hati terbebas dari ekspektasi terhadap balasan duniawi, seorang hamba akan merasakan kedamaian batin dan kebebasan sejati dalam menjalankan perintah-Nya.
Merenungkan hikmah ke-19 Al-Hikam menjadi momentum penting untuk introspeksi diri. Di tengah maraknya budaya pamer pada era modern, ajaran ini hadir sebagai pengingat agar setiap tindakan tetap berakar pada ketulusan.(*)




