Lifestyle

Bertahan di Tengah Arus Modernisasi, Desa Cireundeu Tak Luntur oleh Zaman

×

Bertahan di Tengah Arus Modernisasi, Desa Cireundeu Tak Luntur oleh Zaman

Sebarkan artikel ini
FotoJet 4 28
Desa Cirendeu, Bandung Barat

KITAINDONESIASATU.COM – Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, Desa Cireundeu di Kecamatan Cimahi Selatan, Kelurahan Leuwi Gajah, tetap mempertahankan tradisi leluhur.

Dengan sekitar 800 jiwa dari 60 kepala keluarga, desa ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat budaya Sunda yang masih lestari.

Sejarah Cireundeu erat kaitannya dengan Sunda Wiwitan, kepercayaan asli masyarakat Sunda yang menekankan keseimbangan antara manusia dan alam.

Prinsip ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam pertanian yang menjadi sumber utama penghidupan warga.

Ketela telah menjadi simbol ketahanan pangan desa ini sejak awal abad ke-20.

Nama “Cireundeu” berasal dari pohon rendeu yang memiliki khasiat obat, mencerminkan semangat kemandirian dan ketahanan masyarakatnya.

Prinsip “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” menunjukkan bagaimana mereka beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya. Meski teknologi modern telah masuk, nilai-nilai adat tetap dijaga dengan baik.

Filosofi hidup masyarakat Cireundeu juga tercermin dalam ungkapan: “Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat,” yang menegaskan ketahanan dan kemandirian mereka dalam menghadapi berbagai kondisi.

Sejarah mencatat bahwa pada 1918, akibat kekeringan yang melanda, masyarakat beralih dari beras ke ketela sebagai makanan pokok, sebuah tradisi yang masih dipertahankan hingga kini.

Masyarakat Cireundeu menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang diwariskan turun-temurun melalui tiga jenis hutan:

Leuweng Larangan (Hutan Terlarang) – Kawasan ini dilindungi dan tidak boleh dirusak karena berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem.

Leuweng Tutupan (Hutan Reboisasi) – Warga boleh memanfaatkan sumber daya hutan ini, tetapi harus menanam kembali pohon yang ditebang.

Leuweng Baladahan (Hutan Pertanian) – Merupakan lahan pertanian tempat warga menanam berbagai tanaman pangan seperti singkong, jagung, dan kacang-kacangan.

Sistem ini mencerminkan harmoni antara manusia dan alam serta menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Dengan luas wilayah sekitar 64 hektare, di mana 60 hektare di antaranya merupakan hutan dan lahan pertanian, Cireundeu memiliki potensi besar dalam ekowisata.

Lanskap perbukitannya yang indah menarik wisatawan yang ingin menikmati alam sekaligus belajar tentang kearifan lokal.

Puncak Salam menjadi salah satu daya tarik utama desa ini, menawarkan pemandangan alam yang menawan dan udara segar. Keberadaan bumi perkemahan di sekitar Puncak Salam semakin memperkaya pengalaman wisata edukatif di Cireundeu.

Masyarakat Cireundeu tidak hanya menjaga budaya mereka tetapi juga berbagi nilai-nilai luhur dengan generasi muda dan wisatawan.

Dengan konsep ekowisata berbasis edukasi, desa ini menjadi bukti bahwa tradisi dan modernisasi dapat berjalan beriringan.

Seperti pohon rendeu yang kokoh, Cireundeu terus bertahan, memberi manfaat, dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *