Keuangan

Rupiah Tersungkur ke Rp17.856 per Dolar AS, Investor Menahan Napas Jelang Keputusan BI

×

Rupiah Tersungkur ke Rp17.856 per Dolar AS, Investor Menahan Napas Jelang Keputusan BI

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini
Rupiah kembali melemah Rp17.856 per dolar AS.

KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (18/6) pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah 94 poin atau 0,53 persen ke level Rp17.856 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.762 per dolar AS.

Menanggapi pelemahan tersebut, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurrahman, menilai pergerakan rupiah saat ini lebih dipengaruhi sikap wait and see pelaku pasar menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia ketimbang perubahan fundamental ekonomi yang signifikan.

Menurutnya, investor masih memilih menahan langkah sambil menunggu arah kebijakan terbaru dari Bank Indonesia, khususnya terkait suku bunga acuan dan strategi menjaga stabilitas nilai tukar. Di saat yang sama, sejumlah sentimen global seperti menguatnya dolar AS, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), serta ketidakpastian geopolitik dunia masih menjadi faktor utama yang membebani ruang penguatan rupiah.

Rizal menilai hasil RDG BI akan menjadi penentu penting arah rupiah dalam jangka pendek. Jika bank sentral mampu memberikan sinyal kuat terkait komitmen menjaga stabilitas mata uang melalui kombinasi kebijakan moneter dan intervensi pasar valuta asing, peluang rupiah untuk kembali menguat masih terbuka.

Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut apabila pasar menilai respons Bank Indonesia belum cukup kuat untuk menghadapi gejolak global yang masih berlangsung.

Meski demikian, Rizal tetap melihat adanya peluang penguatan rupiah ke depan, meskipun ruangnya relatif terbatas dan pergerakannya diperkirakan masih sangat fluktuatif. Selama ketidakpastian global tetap tinggi dan selisih suku bunga dengan negara-negara maju belum berubah signifikan, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih akan terus terjadi.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan moneter, memperkuat arus masuk devisa hasil ekspor, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional agar penguatan rupiah dapat berlangsung lebih berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada sentimen jangka pendek. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *