KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 28 April 2026.
Mata uang Garuda tercatat turun ke level Rp17.237 per dolar AS di tengah meningkatnya kehati-hatian pasar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee atau FOMC.
Tekanan terhadap rupiah dipicu sentimen global yang didominasi sikap risk off, seiring ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter ketat dari bank sentral Amerika Serikat.
Pelemahan ini juga sejalan dengan tekanan yang dialami sejumlah mata uang Asia lainnya.
Selain penguatan indeks dolar, lonjakan harga minyak dunia turut menjadi faktor yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset aman sambil menunggu arah kebijakan terbaru dari Federal Reserve.
Sentimen Global dan Domestik Tekan Pergerakan Rupiah
Fokus pasar saat ini tertuju pada peluang pernyataan hawkish dari The Fed meski suku bunga diperkirakan masih ditahan.
Kondisi ini membuat pasar lebih waspada terhadap potensi tekanan lanjutan di pasar keuangan. Dari dalam negeri, minimnya sentimen positif turut membuat rupiah rentan bergerak melemah.
Investor masih menunggu arah kebijakan pemerintah terkait fiskal dan langkah lanjutan Bank Indonesia mengenai suku bunga.



