KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan pagi, Senin (21/9/2026). Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga berada di level Rp17.801,7 per dolar AS.
Berdasarkan data pasar valuta asing, rupiah tercatat terdepresiasi 65,9 poin atau sekitar 0,37 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi ketika indeks dolar AS (DXY) justru relatif stabil.
Indeks DXY tercatat berada di level 99,930 atau hanya turun tipis 0,01 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya dipicu oleh penguatan signifikan dolar AS di pasar global.
Pergerakan mata uang kawasan Asia terhadap rupiah juga berlangsung beragam. Sejumlah mata uang Asia tercatat menguat terhadap rupiah pada perdagangan pagi ini.
Yen Jepang berada di level Rp113,68 atau menguat 0,13 persen. Baht Thailand juga naik 0,10 persen menjadi Rp535,05, sedangkan won Korea Selatan menguat 0,08 persen ke posisi Rp12,8585.
Ringgit Malaysia turut mencatat penguatan tipis sebesar 0,05 persen menjadi Rp4.365,69. Dolar Singapura juga naik 0,01 persen ke level Rp13.957,70.
Sementara itu, euro relatif tidak bergerak dan berada di posisi Rp20.428,0. Berbeda dengan sejumlah mata uang tersebut, yuan China justru melemah 0,06 persen terhadap rupiah menjadi Rp2.657,88.
Tekanan juga terlihat di pasar komoditas. Harga emas dunia pada perdagangan pagi mengalami koreksi tipis.
Harga emas turun 2,79 poin atau 0,06 persen ke level USD4.375,44 per troy ons.
Pergerakan rupiah, mata uang Asia, dan harga emas tersebut menjadi perhatian pelaku pasar pada awal perdagangan pekan ini, terutama di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih bergerak fluktuatif. (*)






