KITAINDONESIASATU.COM – Harga Bitcoin kembali melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat dan memperpanjang tekanan setelah mencatatkan penguatan hampir 25 persen sepanjang Agustus 2026.
Pergerakan aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut kembali dipengaruhi sentimen negatif dari konflik geopolitik dan ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat.
Mengacu pada data perdagangan yang dikutip Kamis (3/9/2026), harga Bitcoin turun 0,2 persen menjadi sekitar US$77.132,6. Pelemahan ini terjadi setelah Bitcoin mencatat performa positif sepanjang Agustus dengan kenaikan hampir 25 persen.
Memasuki September, investor mulai kembali berhati-hati terhadap aset berisiko. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara serta meningkatnya aktivitas militer AS dan Iran menjadi faktor yang menekan minat terhadap Bitcoin.
Tekanan tersebut sedikit tertahan setelah Strategy, salah satu perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin korporasi terbesar, kembali melakukan pembelian aset kripto tersebut.
Namun, aksi akumulasi itu belum mampu sepenuhnya mengimbangi tekanan dari kondisi ekonomi global dan perkembangan geopolitik.
Konflik AS-Iran dan Suku Bunga Jadi Perhatian Investor
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara melancarkan serangan udara. Perselisihan mengenai Selat Hormuz juga menambah kekhawatiran pasar karena berpotensi mengganggu distribusi energi global.
Meningkatnya harga minyak akibat konflik tersebut berpotensi memperbesar tekanan inflasi. Kondisi ini kemudian membuat investor mencermati kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya memberikan tekanan terhadap aset berisiko karena instrumen dengan imbal hasil tetap menjadi relatif lebih menarik.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi Bitcoin setelah sebelumnya mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil obligasi selama Agustus.
