Pada Juni 2026, pihak Sarwendah menyatakan Ruben tidak lagi menanggung biaya anak sejak akhir 2025. Kuasa hukum Sarwendah menyebut kliennya menanggung kebutuhan pendidikan, les, kesehatan, dan keperluan anak lainnya.
Pihak Ruben tidak menyangkal penghentian pembayaran tersebut. Namun, kuasa hukumnya menjelaskan bahwa keputusan itu merupakan bentuk protes karena Ruben merasa kesulitan mendapatkan haknya untuk bertemu anak-anak.
Pihak Ruben juga pernah menyebut besarnya biaya yang sebelumnya dikeluarkan untuk kebutuhan anak.
Perbedaan keterangan tersebut membuat persoalan nafkah tidak bisa dipahami hanya sebagai perselisihan angka. Ada dua persoalan yang saling berkaitan, yakni kewajiban memenuhi kebutuhan anak dan hak orang tua untuk tetap terlibat dalam kehidupan mereka.
Meski demikian, kewajiban nafkah dan hak bertemu anak merupakan persoalan hukum yang berbeda. Sengketa akses bertemu tidak dengan sendirinya menghapus kewajiban orang tua memenuhi kebutuhan anak.




