Berita Utama

Rencana Dedi Mulyadi Libatkan TNI dalam Pembinaan Anak Sangat Keliru

×

Rencana Dedi Mulyadi Libatkan TNI dalam Pembinaan Anak Sangat Keliru

Sebarkan artikel ini
Dedi Mulyadi Kirim Siswa Nakal ke Barak Militer Mulai Mei 2025 Siapkan Program Pendidikan Karakter
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi.

KITAINDONESIASATU.COM – Rencana Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi, untuk melibatkan TNI dalam pembinaan anak-anak bermasalah menuai kontroversi. Sejumlah pihak menilai bahwa rencana tersebut berpotensi melanggar hak asasi anak dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip perlindungan anak.  

Dedi Mulyadi, dalam beberapa kesempatan, menyatakan keinginannya untuk melibatkan TNI dalam memberikan pembinaan disiplin kepada anak-anak yang terlibat dalam kenakalan remaja atau tindak kriminal. Menurutnya, pendekatan militeristik dapat memberikan efek jera dan membentuk karakter anak-anak tersebut.  

Namun, rencana ini mendapat penolakan keras dari berbagai organisasi perlindungan anak dan aktivis hak asasi manusia. Mereka berpendapat bahwa pendekatan militeristik dapat menimbulkan trauma dan kekerasan pada anak-anak, serta tidak efektif dalam mengatasi akar permasalahan kenakalan remaja.  

“Melibatkan TNI dalam pembinaan anak-anak bermasalah adalah langkah yang sangat keliru. Anak-anak membutuhkan pendekatan yang humanis dan berbasis pada pemulihan, bukan pendekatan militeristik yang cenderung represif,” ujar Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid, kepada wartawan Rabu (30/4/2025).

Diungkapkan, pendekatan militeristik tidak sesuai dengan prinsip-prinsip perlindungan anak yang diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan mereka secara optimal.

Selain itu, sejumlah psikolog anak juga memperingatkan bahwa pendekatan militeristik dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional anak-anak. Mereka menekankan pentingnya pendekatan yang berbasis pada psikologi perkembangan anak dalam menangani kasus-kasus kenakalan remaja.

Menanggapi kritik tersebut, Dedi Mulyadi menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk memberikan pembinaan disiplin yang efektif bagi anak-anak bermasalah. Ia juga menegaskan bahwa pembinaan yang diberikan akan dilakukan dengan pendekatan yang humanis dan tidak melanggar hak asasi anak. Namun, penjelasan tersebut belum meredakan kekhawatiran dari berbagai pihak.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *