Berita UtamaNews

Profesor ITB Minta Pengelola Bromo Hati-hati Jangan Melakukan Penanaman Massal Pasca Kebakaran

×

Profesor ITB Minta Pengelola Bromo Hati-hati Jangan Melakukan Penanaman Massal Pasca Kebakaran

Sebarkan artikel ini
Prof Endah Sulistyawati
Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D

KITAINDONESIASATU.COM – Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D memberikan pandangan ilmiah mengenai dampak kebakaran Bromo-Tengger.

Dampak kebakaran terhadap ekosistem, potensi perpindahan satwa, daya lenting lingkungan, yang terjadi perlu perlu perhitungan yang matang hingga strategi pemulihan yang tepat.

Prof Endah menjelaskan bahwa hilangnya sebagian biomassa akibat kebakaran merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari.

Menurutnya, memahami karakteristik api dan ekosistem yang terbakar menjadi langkah penting untuk menentukan respons dan strategi pemulihan kawasan.

Kebakaran di Bromo akan berdampak hilangnya vegetasi akibat kebakaran dapat mengurangi tempat berlindung sekaligus sumber pakan bagi satwa liar, kondisi ini mendorong satwa berpindah mencari ruang yang lebih aman.

Dikatakan apabila satwa liar memiliki waktu yang cukup, mereka akan berupaya melarikan diri, persoalannya adalah, apakah masih tersedia ruang aman bagi mereka untuk berlindung?

“Jika tidak, mereka terpaksa memasuki kawasan pemukiman penduduk, ini akan menjadi masalah baru,” jelasnya.

Perpindahan satwa ke arema pemukiman penduduk akan menimbulkan risiko konflik antara manusia dengan satwa.

Terkait upaya pemulihan kawasan pascakebakaran, Prof Endah menyarankan agar pengelola menerapkan pendekatan yang hati-hati dan berbasis pada kondisi ekosistem.

“Salah satunya melalui restorasi pasif dengan memberikan kesempatan bagi alam untuk menunjukkan kemampuan pemulihannya terlebih dahulu,” jelasnya.

Lebih jauh mengatakan satu hal yang paling penting adalah jangan terburu-buru melakukan penanaman massal atau restorasi aktif.

Sering kali orang menganggap setelah kebakaran, solusinya harus langsung ditanami pohon banyak-banyak, pengelola perlu memantau lebih dahulu proses pemulihan alami yang ditandai dengan munculnya rumput dan anakan pohon sebelum menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.

“Ini penting karena setiap ekosistem memiliki karakteristik yang berbeda, penanaman pohon kayu secara masal di kawasan alami savana justru berpotensi mengubah karakter ekosistem alam,” jelasnya.

Menurutnya, karakter savana di kawasan Bromo juga berkaitan dengan dinamika api yang berlangsung secara alami di wilayah tersebut.

Karena itu, pemulihan kawasan perlu mempertimbangkan karakter ekologis asli agar intervensi yang dilakukan tidak justru mengubah fungsi dan struktur ekosistem. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *