Sebagai bukti, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)—pasukan elit yang bertanggung jawab atas keamanan rezim dan operasi luar negeri—meluncurkan rudal dan drone ke sasaran militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas serangan AS ke Iran di Selat Hormuz, dengan ancaman memperluas cakupan jika agresi berlanjut.
Sebagai konteks, Selat Hormuz merupakan chokepoint geopolitik paling kritis di dunia, dengan lebar hanya 33 km di titik tersempit.
Setiap serangan AS ke Iran di kawasan ini berisiko mengganggu pasokan energi global dan memicu konflik regional yang lebih luas.
Donald Trump dan Iran kini berada di jalur konfrontasi terbuka, dengan serangan AS ke Iran di Selat Hormuz menjadi titik didih baru yang dapat mengubah peta keamanan Timur Tengah secara dramatis.***





