KITAINDONESIASATU.COM – Kasubdit III Jatanras Direskrimum Polda Jatim, AKBP Arbairidi Jumhur mengungkap jika tersangka kasus pembunuhan dan mutilasi Rohmad Tri Hartanto alias Antok (33) berkali-kali menagis dengan penyidik.
Menurut Jumhur ketika proses interogasi dilakukan tersangka Antok sering terdiam dan menundukkan kepalanya sekan memiliki beban berat.
Setalah itu kemudian dia menangis berkali-kali ketika berbicara mengenai kedua anak perempuannya itu, saat pemeriksaan di Ruang Subdit III Jatanras Direskrimum Polda Jatim.
Tangisan tersebut muncul ketika dirinya berbicara mengenai kedua anaknya, ini yang menjadi salah satu alasan kuat di balik tindakannya itu.
Inilah yang selalu menjadi alasan dibalik perbuatannya itu mengapa membunuh dan mutilasi Uswatun Khasana yang merupakan pacar gelap tersangka.
Ucapan menyakitkan yang terontar dari korban kepada dirinya dan anak perempuannya diduga motif dibalik terjadi peristiwa tragis itu.
Seperti diberitakan sebelumnya AKBP Arbaridi Jumhur menjelaskan olok-olokan dan kata-kata kasar menyebabkan diri Antok terhina dan marah.
Kemarahan dan olok-olok an itu dianggap penghinaan hingga dirinya kemudian bermata gelap dan mendorong melakukan tindakan pembunuhan dan mutilasi.
Jumhur sendiri melihat memang ada terikatan emosional yang cukup kuat antara Antok dan kedua anak perempuannya itu.
Hal ini terlihat ketika penyidik menanyakan soal anak-anaknya, tersangka selali menangis, rupanya dia memang sangat sangat sayang dengan kedua anaknya itu.
Sementara hubungan yan dijalani selama 3 tahun antara Antok dan Uswatun Khasanah sepertinya belakangan tidak lagi mulus.
Apalagi tersangka juga mengungkapkan korban juga memaksa kepada tersangka agar segera menikahinya dengan peryaratan yang berat, yakni mencerai istri sahnya.
Rentetan peristiwa dan tekanan inilah yang diduga menyebab adanya konflik di antara mereka berdua dan berakhir dengan kematian.
Sementara dari Blitar dilaporkan jajaran Polres Blitar mengunjungi rumah duka di Desa Sidodadi, Kecamatan Garum Kabupaten Blitar yang dimpimpin Kapolres Blitar, AKBP Arif Fazlurrahman.
Kapolres Arif menguncapkan belasungkawa dan bersama tim trauma healing untuk membantu keluarga korban segera melupakan dan kembali ke masa depan.
Pelaku Mutilasi Koper Merah Ketua Ranting Pencak Silat Tulungagung Terancam Hukuman Mati
Pendampingan dari tim trauma healing ini menurut Arif sangat diperlukan mengingat anak-anak korban Uswatun Khasanah yang masih berusia anak-anak yakni berusia 10 tahun dan 7 tahun.
Kedua anak Uswatun ketika sang ibu berada di Tulungagung selama ini diasuh oleh Ana Yuliani salah satu kerabat dekat korban.
Uwatun yang sudah 5 tahun di Tulungagung biasanya setiap seminggu sekali menjenguk anak-anaknya dan kerabatnya di Blitar.
Status Uswatun adalah seorag janda yang bercerai dengan suami keduanya sekitar 3 tahun yang lalu dengan pria asal Lumajang.
Dikatakan Ana Sendiri jika Uswatun tinggal di Tulungagung sehajak 5 tahun terakhir dan mengaku bekerja sebagai sales produk kosmetik di sana.
Terkait dengan kasus yang menimpa salah satu anggotanya, Uswatun keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian.
Ayah tiri korban Hendi Suprato mengaku ingin bertemu dengan pelaku, jika diizinkan oleh kepolisian, untuk mempertanyakan peristiwa ini.
Seperti kita ketahui korban sendiri merupakan tulang punggung ekonomi keluarganya, setiap bulan Uswatun bekerja untuk menghidupi kedua anak laki-laki dan perempuannya yang masih SD.
Di sisi lain Hendi mengatakan keinginannya bertemu dengan tersangka hanya ingin apa permasalahan yang sebenarnya.
Pihak keluarga tidak percaya dengan persitiwa yang terjadi itu, karena selama ini anak tirinya itu sosok yang baik dan bertanggung jawab kepada kedua anaknya.
Uswatun sering ke rumah orangtuanya bersama anak-anaknya, setidaknya sebulan sekali atau kadang-kadang seminggu dua minggu sekali selalu menemui ibunya.
Keluarga sendiri terakhir bertemu pada Sabtu, 18 Januari 2025, saat korban pulang ke Blitar, kemudian Selasa (21/1/2025) hilang komunikasi dengan keluarga.
Ketika dihubungi melalui WhatApp tidak ada respon sama sekali, pada hal biasanya kalau tidak bisa dihubungi atau di WA langsung kontak balik.
Bahkan hingga malam tidak ada korban, hingga terakhir ada kabar dari Polsek Garum, Blitar mengabarkan penemuan koper merah berisi jasad korban mutilasi di Ngawi, untuk dicocokan dengan identitas Uswatun Khasanah. **



