Selanjutnya, pada Januari 2027, konstruksi dua buah gravity wall (dinding penahan tanah berbobot) akan dimulai di sisi selatan dan timur TPA.
Selain berfungsi memperluas area penumpukan, infrastruktur ini krusial untuk memitigasi risiko longsor, mengingat tekanan beban sampah yang terus meningkat.
Solusi Hilir: Kolaborasi Refuse Derived Fuel dan TNI AD
Untuk menangani sampah yang sudah terlanjur menumpuk, Pemprov Jabar mempercepat implementasi teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).
Melalui kerja sama strategis dengan industri semen, termasuk Indocement, sampah residu di Sarimukti akan diolah menjadi bahan bakar alternatif yang bernilai ekonomis, sekaligus mengurangi volume timbunan secara drastis.
Tak berhenti di situ, pemerintah juga tengah menjajaki kerja sama dengan TNI Angkatan Darat untuk menghadirkan unit fasilitas pengolahan sampah berkapasitas 1.000 ton per hari di kawasan Sarimukti, memanfaatkan kedisiplinan dan logistik yang dimiliki institusi pertahanan tersebut.
Peta Jalan Menuju 2030: Menunggu Waste to Energy
Seluruh rangkaian intervensi ini dirancang untuk memperpanjang masa operasional TPA Sarimukti hingga akhir tahun 2029.




