Namun, proses evakuasi medis udara pada Senin sore belum dapat dilaksanakan karena kondisi cuaca di sekitar Pelawangan 2 Sembalun memburuk.
Kabut tebal yang menutupi area pendakian membuat jarak pandang pilot sangat terbatas sehingga helikopter tidak memungkinkan melakukan pendaratan dengan aman.
Kru helikopter sempat mencoba melakukan manuver untuk mencari titik pendaratan terbaik. Akan tetapi, demi keselamatan seluruh tim dan korban pendaki cedera di Gunung Rinjani, helikopter akhirnya diputuskan kembali ke pangkalan di Bali sambil menunggu kondisi cuaca membaik.
Selama proses penundaan, korban tetap berada dalam pengawasan intensif tim medis dan SAR gabungan di lokasi pendakian.
Berdasarkan rekomendasi dari Nusa Medica Clinic, korban untuk sementara tidak dipindahkan guna menjaga stabilitas kondisinya sebelum proses evakuasi medis udara dilanjutkan.
Kepala Kantor SAR Mataram selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhamad Hariyadi, mengatakan faktor keselamatan menjadi prioritas utama dalam operasi penyelamatan tersebut.
“Karena kendala cuaca berupa kabut tebal, evakuasi udara kami tunda dan baru dilanjutkan kembali saat jarak pandang dinyatakan aman,” ujar Muhamad Hariyadi terkait proses penyelamatan pendaki Malaysia di Gunung Rinjani.
Cuaca yang mulai membaik pada Selasa pagi akhirnya memungkinkan helikopter kembali diterbangkan menuju lokasi. Helikopter PT SGi Air Bali lepas landas dari Lapangan Sembalun sekitar pukul 08.05 WITA untuk mengevakuasi korban pendaki cedera di Gunung Rinjani menuju fasilitas kesehatan lanjutan di Bali.
