KITAINDONESIASATU.COM – Gunung Anak Krakatau masih berada pada status Level III atau Siaga. Aktivitas kegempaannya terus dipantau, sementara masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang mendekati kawasan gunung api tersebut dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Peringatan ini menjadi perhatian karena selain aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, muncul pula larangan beraktivitas di pulau baru yang diduga terbentuk akibat rangkaian erupsi pada 4–6 September 2026.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Minggu (11/10/2026), periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB menunjukkan Gunung Anak Krakatau terlihat jelas. Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang teramati membubung setinggi 10–50 meter di atas puncak kawah.
Aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu perhatian petugas pemantauan. Dalam periode tersebut, tercatat sebanyak 28 kali kejadian gempa dengan beberapa jenis karakteristik.
Rinciannya, gempa hembusan terjadi sebanyak 16 kali dengan durasi 22–190 detik. Sementara itu, gempa hybrid atau fase banyak tercatat enam kali dengan durasi 7–12 detik, disusul enam kali gempa vulkanik dangkal dengan durasi 9–17 detik.
Pengamat Gunung Api, Muhammad Dika Nurzaman juga melaporkan tremor menerus atau microtremor dengan amplitudo 1–42 milimeter, didominasi amplitudo 15 milimeter.






