KITAINDONESIASATU.COM- Viralnya istilah “anak AC“ yang mengaitkan Generasi Alfa dengan ketidakmampuan bertahan saat mengikuti upacara di tengah cuaca panas menjadi perhatian publik. Fenomena ini dinilai sebagai pengingat bahwa kemudahan teknologi tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam pola pengasuhan anak.
Ahli pengasuhan dan perkembangan anak IPB University, Prof Dwi Hastuti, mengatakan berbagai fasilitas modern yang semakin memudahkan kehidupan perlu diimbangi dengan pembiasaan menghadapi ketidaknyamanan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan adaptif.
Generasi Alfa merupakan anak-anak yang lahir pada rentang 2010–2025 atau saat ini berusia sekitar 1–16 tahun. Mereka tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, digitalisasi, serta beragam fasilitas yang memberikan kenyamanan, termasuk penggunaan pendingin ruangan (AC).
“Dari perspektif psikologis, kondisi tersebut membuat anak-anak gen Alfa cenderung terbiasa memperoleh kemudahan sehingga karakter kegigihan, ketahanan mental, dan daya juang mereka berpotensi tidak sekuat generasi sebelumnya,” ujar Prof Tuti, Kamis, 6 Agustus 2026.
Lingkungan dan Gaya Hidup Membentuk Karakter Generasi Alfa
Prof Tuti menjelaskan, lingkungan sekitar memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Kehadiran media sosial membuat Generasi Alfa lebih mudah membandingkan kondisi yang mereka alami dengan pengalaman orang lain maupun tokoh yang diikuti.
“Gaya hidup di sekitar lingkungan anak-anak ini juga akan mempengaruhi karakter gen Alfa, karena mereka kerap membandingkan situasi yang dihadapi dengan apa yang dialami orang lain dan tokoh di media sosial,” katanya.
Selain itu, kemudahan fasilitas juga membentuk pola pikir serba instan. Ketika merasa kepanasan, misalnya, anak cenderung langsung menyalakan AC tanpa mencoba alternatif lain, seperti menggunakan kipas tangan, mencari tempat yang lebih sejuk, atau mengenakan pakaian berbahan katun yang lebih nyaman.
Menurut Prof Tuti, kebiasaan tersebut dapat membuat anak kurang terbiasa mencari solusi saat menghadapi masalah. Pola hidup minim aktivitas fisik atau sedentary life juga menjadi karakter yang mulai banyak ditemui pada Generasi Alfa.
Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, hingga budaya masyarakat yang semakin mengutamakan kepraktisan. Jika dahulu anak terbiasa berjalan kaki ke sekolah, kini banyak yang diantar menggunakan kendaraan pribadi maupun layanan jemput sekolah dengan alasan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi.
Orang Tua Berperan Membangun Ketangguhan Anak
Prof Tuti menegaskan bahwa orang tua memiliki peran sentral dalam membentuk ketangguhan anak. Orang tua tidak hanya perlu menjadi teladan, tetapi juga menjelaskan alasan di balik setiap keputusan sehingga anak terbiasa berpikir kritis, menganalisis, dan mengambil keputusan.
“Ajak anak untuk mengalami juga bagaimana jika ia harus jalan kaki, bagaimana jika tiba-tiba tidak punya uang, tidak punya aneka fasilitas yang membantu mereka. Hal ini agar anak terbiasa dengan manajemen risiko, sehingga ia tidak bermental ‘lembek’, mudah menyerah serta mudah putus asa,” jelasnya.
Ia juga menyarankan agar anak diajak mengenal berbagai kondisi sosial di sekitarnya. Langkah tersebut dinilai dapat melatih empati, membiasakan diskusi, serta membantu anak belajar menghadapi berbagai kemungkinan dalam kehidupan.
Menurut Prof Tuti, anak yang terlalu bergantung pada fasilitas dan selalu dilayani berisiko mengalami kesulitan beradaptasi ketika menghadapi tantangan. Karena itu, anak perlu dibiasakan melakukan berbagai hal secara mandiri agar mampu mengelola diri, menyelesaikan masalah, serta tidak mudah menyerah.
“Hal ini karena salah satu kunci keberhasilan anak di masa depan adalah individu yang agile, mudah beradaptasi dan menyelesaikan masalah serta kreatif,” pungkasnya




